Pages

  • Home
  • Disclaimer
  • Privacy
  • TOS
  • Sitemap
  • About Us
Instagram Facebook Twitter

amaze.

  • Home
  • Aqeeda Islamiyyah
    • Nafsiyah
    • Tsaqafah
  • Inspirasi
    • Kisah Inspiratif
    • Motivasi
  • Al Fikru
    • Opini
    • Resensi Buku
  • Parenting
  • About us



Hari ini kita harus sadar bahwa kita sedang hidup di zaman yang serba uang, serba mahal, serba hedonis, serba-serba kenikmatan dunia yang bikin ngiler. Kapitalisme sukses menumbuhkan bibit-bibit iri hati pada diri manusia, kapitalisme pun sukses membuat kita kadangkala susah bersyukur. Gimana enggak coba? Sistem ini menciptakan suasana, which is, setiap harinya memaksa seseorang untuk terpapar oleh kehidupan mewah orang-orang seantero dunia. Scrolling gadget semakin cepat dan gampang diakses tanpa batas.


Dari latar belakang kehidupan yang seperti inilah muncul berbagai masalah kehidupan, salah satunya adalah merajalelanya transaksi hutang-piutang dengan tambahan manfaat. Atau yang sering kita maknai istilahnya dengan sebutan riba.


Bukan Islam namanya jika aktivitas semacam ini tak ada kaidahnya dalam Islam. Aturan Islam mencakup hukum yang mengatur diri sendiri, bagaimana bermuamalah dengan orang lain hingga bagaimana mengatur sumber daya berskala negara. Dalam konteks hutang-piutang pun Allah SWT menjelaskannya didalam Alquran bahwa riba tidaklah sama dengan jual beli.


"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. al Baqarah : 275)


Kemudian di ayat selanjutnya Allah SWT menyeru dengan berfirman :


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman." (QS. al Baqarah : 278)


Kemudian di ayat selanjutnya lagi Allah SWT menegaskan kembali.


"Jika kamu tidak melaksanakannya maka umumkanlah perang dari Allah SWT dan rasul-Nya..." (QS. al Baqarah : 279)


Oke, coba kita ulang kembali ayat tentang riba diatas, bahwa Allah SWT dengan jelas membedakan mana yang riba dan mana yang bukan, halal dan haram itu jelas banget kok guys. Disisi Allah SWT hitam dan putih itu sangat jelas. Dan jelas pula dampaknya.


Riba itu banyak rupanya. Kasus riba yang paling ringan adalah ketika seorang anak menzinai ibunya sendiri. Dampak dari aktivitas riba begitu nyata dan mengerikan. Karena satu-satunya aktivitas haram yang Allah SWT balas langsung (alias seketika itu juga) di dunia adalah aktivitas peribawian.


Harta riba bersifat panas gitu lo guys. Sama sekali tidak ada keberkahan bagi penerimanya, pelakunya maupun juru catatnya. 


"Rasulullah SAW melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba." Kata beliau, "Semuanya sama dalam dosa." (HR. Muslim, no. 1598)


Simak lagi ayat tentang ancaman buat para pelaku riba bahwa jikalau kamu tidak hendak menghentikan transaksi riba, umumkan bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya mengajak kamu perang. Siapa sih guys yang berani melawan Allah SWT? Maka dari itu tidak bisa dipungkiri jika dalam rumah tangga seringkali terjadi perkelahian yang berujung perceraian, anak yang susah sekali diatur, mungkin saja ada secuil perbuatan kita yang mendatangkan murkanya Allah SWT dalam bentuk riba. 


Banyak faktor yang menjadikan seseorang tercemplung kedalam aktivitas riba. Bisa juga karena tidak tahu. Inget ya bahwa riba itu bukan cuma ada pada aktivitas bank aja tapi juga yang lain, bisa jadi. Sesimple kamu makan, masih ngutang, dibayarin temenmu dulu, eh kok kamu pas makan bareng kamu nyimit makanan temen kamu itu.


Nah, disinilah pentingnya ilmu agama guys bagi seorang muslim. Kan Allah SWT bilang tuh di ayat sebelumnya, "Bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan riba..." Sedangkan takwa itu gak bisa dicapai jika bukan dengan ilmu/pengetahuan. 


Hukum syariat Islam tidak bisa diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian dengan alasan suka atau tidak suka. Jika kita masih beranggapan seperti itu berarti kita belum benar-benar tunduk sebagai hamba dan masih mendahulukan perasaan. Contohnya guys jika kita masih beranggapan seperti ini, "ah kayaknya kalau sistem sewa tanah itu boleh deh dalam Islam. Kan itu gak kayak sistem gadai yang dzalim sama pemiliknya. Kayaknya kalau kerja di instansi ini gak apa-apa deh kan aku cuma pegawainya bukan pelakunya." Dan kayaknya-kayaknya yang semisalnya.


Rasulullah SAW menegaskan tentang azab bagi para pelaku riba dan hadits ini memperkokoh perkataan Allah SWT bahwa siapapun yang melakukan aktivitas ribawi maka ia sedang mengajak Allah SWT berperang.


"Jika zina dan riba sudah menyebar disuatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah SWT atas mereka sendiri." (HR. al Hakim, al Baihaqi, at Thabari)


Ketika yang ngajak perang itu udah Allah SWT dan Rasul-Nya, siapa sih yang mampu menang? So that, ketika zina dan riba telah tampak (menyebar) disuatu kampung/masyarakat/negara, itu tandanya manusianya sendiri sudah rela kalau azab Allah SWT datang menimpa kampung/masyarakat/negara itu.


Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan "suatu kampung" atau "di tengah penduduk kampung", bisa juga diartikan sebagai "di tengah masyarakat" atau bisa juga "negara" pada kapasitas yang lebih besar. That's the point, dampak atau sebutlah azab Allah SWT bagi pelaku zina dan riba ini gak sekedar pada tataran individu/pelakunya saja, tapi menyeluruh. Itu artinya bagi penduduk negerinya.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua aktivitas ini mau gak mau berdampak pada seluruh aspek masyarakat, khususnya di sektor ekonomi. Seperti ketimpangan sosial yang akan semakin terlihat, si kaya akan terus memperkaya diri, dan si miskin akan tetap miskin. Karena adanya gap jumlah uang yang beredar di masing-masing orang. Dan kerusakan inilah yang kita maknai sebagai azab Allah SWT. Wallahu'alam.


Untuk kasus diatas, kita bisa memahami apa dan bagaimana korelasinya dengan perkataan "penduduk kampung/masyarakat/negeri menghalalkan azab Allah?" Jika lama-kelamaan aktivitas seperti ini dibiarkan, kasusnya semakin marak, perzinaannya semakin berjamaah, tidak hanya satu dua orang yang akhirnya akan tertimpa kerusakan. 


Jadi gak ada tuh kalimat, "yang penting aku gak melakukan zina atau riba." Kedua dalil diatas sudah membutktikan bahwa kita pun akan dimintai pertanggung jawaban atas kerusakan tersebut. Meski tidak melakukan. Kenapa? Karena mendiamkan sama saja mendukung secara pasif. Padahal Allah SWT selalu bilang beruntunglah orang-orang yang hidupnya saling tolong menolong dalam kebaikan, nasihat-menasihati dalam kebajikan. Dan disinilah letak pentingnya ama ma'ruf nahi mungkar. Islam itu bukan agama yang menyuruh kita untuk menjadi pribadi yang abai dengan lingkungan, seperti individualis dalam sistem kapitalis, islam mengajari kita untuk care dan emphaty sama orang lain. Sebab muslim itu satu tubuh, jika satu bagian sakit/rusak maka bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit juga. Perbaikan kerusakan yang ada pada manusia tak lain adalah dengan cara dakwah, itulah tanda cinta kita pada sesama.

0
Share



Standar pencapaian manusia satu dengan yang lainnya pasti berbeda, ya kan? Disisi lain, standar pencapaian seseorang tentu saja akan dipengaruhi oleh banyak faktor, tak terkecuali dipengaruhi oleh bagaimana cara dia memandang kehidupan, bagaimana cara dia memandang alam semesta dan bagaimana cara dia memandang manusia itu sendiri.


Jadi ya, kalau kita mau mengindera dan berpikir lebih dalam lagi. Pencapaian seseorang, baik itu laki-laki maupun perempuan, semuanya dititik beratkan pada bagaimana cara pandangnya. Secara bahasa ini disebut dengan "IDEOLOGI". 


Cara berpikir seperti apa inilah akan terurai berbagai macam keinginan ataupun pencapaian sekaligus solusi dari pencapaian tersebut. In familiar term, it is called point of view. Setelah kemarin kita bahas dikit tentang point of view. Ada baiknya sekarang kita kenalan dulu sama ideologi-ideologi yang tumbuh di dunia saat ini. Biar kita bisa ukur nih, selama ini kita menjalankan kehidupan ini pakai cara pandang (ideologi) seperti apa. Jangan karena kita salah ambil ideologi, kita jadi gampang stress dan kebanyakan nuntut healing.

 

Mengenal Ideologi di Dunia

Mengenal Ideologi di Dunia
Sumber foto : stocksnap.io

Di dunia ini cuma ada tiga macam orang, guys. Jadi manusia itu sebetulnya dikelompokkan atas tiga pemahaman ini.


Pertama, orang-orang yang berprinsip layaknya rantai makanan. Mereka yang berprinsip pada pemahaman ini biasanya susah untuk menerima keberadaan Tuhan. Karena mereka menganggapnya segala sesuatu itu terbentuk dari materi satu ke materi yang lain, dari satu wujud ke wujud yang lain. Bagi mereka kesemuanya itu cuma berpindah wujud, bukan berasal dari proses penciptaan. Mirip kan kayak konsep rantai makanan?


Foto : Postingan Seorang Influencer


Pada postingan seseorang diatas jikalau kita gak hati-hati dalam memahami pemikiran ini, bisa aja kita kebawa arus. Jadilah proses hidupnya, pencapaiannya akan muter kayak lingkaran setan. Bangun tidur mikirin cuan buat besok bisa happy-happy, ngabisin waktu buat cuan, balik lagi ngabisin cuan buat beli waktu (ini terlepas pembahasan apakah waktu bisa dibeli ya). Nah, kayak gitu guys. Kebayang kan betapa stressnya kehidupan materialisme. Kayak hidup sekedar kungkungan waktu dan uang.



Kedua, orang-orang yang berprinsip dengan mengambil jalan tengah. Yaitu mereka yang masih mau percaya sama Tuhan tapi enggan untuk menerapkan hukum-hukum dari Tuhannya. Jadi dalam kesehariannya mereka gak pakai peraturan Tuhan tapi peraturan yang muncul dari kehendak dia sendiri. Nah, kalau aturan yang dipakai udah dari "kehendak sendiri", itulah sebuah aturan yang ditunggangi dengan hawa nafsu dan kepentingan.



Cara pandang yang seperti ini juga ngeri banget, guys. Karena penghambaannya kepada Tuhan bisa belok sesuai dengan kebermanfaatan, sesuai keinginan dan sesuai kepentingan juga. Penghambaan kepada Tuhan itu kan bukan hanya diranah ibadah aja guys. Tapi dalam segala segi, baik dalam cari rezeki, dalam target pencapaian kita, dalam bergaul, dalam berpakaian, dll. Tapi kalau penghambaannya udah berbelok ke yang lain. Maka segala aktivitasnya akan berubah jadi atas dasar kepentingan, manfaat semata. Yaaa, sama lah kayak semboyan kita hari ini. Times is money. Bisa kita bayangin kan, kalau semboyannya aja udah kayak gini, maka semua aktivitas yang kita lakukan akan mengarah kemana? termasuk dalam mengukur tingkat pencapaian kita sendiri.



Jadilah kita bisa mengindera bahwa hari ini kita berada pada era dimana semua dikomersialkan, alias segala lini udah menggunakan cara pandang kapitalisme. Sedihnya lagi, generasi abad ke-19 sampai sekarang sudah dicekoki sama pemikiran yang model begini, sejak dia lahir, kamu ya termasuk aku juga.



Kalau udah kayak gini nih, parahnya lagi hubungan antar manusia bukan lagi dianggap sebagai humanities, tapi dianggapnya udah kayak kehidupan pasar sebab yang ada cuma konsumen sama produsen. Masyarakatnya udah dianggap mangsa pasar. Tidak menutup kemungkinan juga manusia hanya dianggap sebagai mangsa politik untuk menempati kursi-kursi perpolitikan. Ilmu udah bukan sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk mengarungi kehidupan dengan benar. Karena akan banyak Universitas yang bersemboyan "kuliah kerja nyata", jadilah kuliah itu bukan lagi nyari ilmu untuk kehidupan tapi untuk kerja. Impact dari kerja kalau bukan uang apa guys?



Jadi memang ya cara pandang kapitalis ini menjadikan sumber kebahagiaan adalah uang. Yaaa wajar saja jika kemudian banyak orang yang berlomba-lomba untuk memperkaya diri, karena otaknya sedari lahir sudah mengindera fakta bahwa yang menjadikan sumber kebahagiaan adalah uang.


 

Standar Pencapaian

Standar Pencapaian
Sumber foto : Pixabay


Sebelumnya sudah kita bahas tentang tiga macam landasan berpikir atau yang disebut sebagai point of view. Sampai sini, sudahkah kita paham tentang diri kita sendiri? Landasan berpikir yang mana yang selama ini kita pakai? Penting sekali untuk memikirkannya. Karena jangan-jangan kebingunganmu tentang pencapaianmu sendiri adalah akibat dari kesalahan menggunakan point of view.


Kunci utamanya adalah mengubah cara pandang diri sendiri terlebih dahulu. Agar ketika target pencapaian yang disusun berbeda dari yang lain, tidak jadi insecure, tidak jua merasa kurang yang mengakibatkan kurang bersyukur, tidak pula kebingungan, dll.



Ketika hari ini, semua perempuan dihadapkan pada cara pandang yang kapitalistik, namun jangan pernah sekali-kali meletakkan standar dan parameter kehidupanmu menjadi sama dengan mereka. Saat kamu menimbang target pencapaianmu dengan standar kapitalisme, maka dirimu tak akan menemukan bagaimana Islam bekerja untuk memuliakan kedudukanmu, wahai kaum hawa. Saat kamu mengukur target pencapaianmu dengan standar kapitalisme, maka dirimu hanya akan menggerutu sebab nasibmu tak semujur mereka.



Kuncinya jangan gunakan standar-standar kapitalis. Ini adalah pesan sekaligus tips pertama yang harus kamu gunakan dalam menimbang target pencapaianmu sendiri. Karena sejatinya pemikiran yang datang bukan dari Islam, ia tak akan menentramkan hati, tak sesuai dengan fitrah dan tak memuaskan akal.



Pakailah hukum yang lima, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Hukum yang lima ini cukup kok membuat kamu bisa memprioritaskan aktivitas bahkan target-target pencapaianmu sendiri. Hukum yang lima ini juga menjadi standar bagi segala aktivitas yang akan kamu targetkan. Sebagai muslim kita tentu paham bahwa Islam gak cuma ngurusin ibadah doang. Maka hukum yang lima inilah yang bisa kamu jadikan standar kamu punya pencapaian. Contoh simple-nya, lebih wajib mana menggunakan jilbab dulu dengan jilbabin hatinya dulu? Contoh lainnya, boleh bagi perempuan bekerja diluar rumah atas izin suami, tidak campur baur, berjilbab, tidak tabarruj serta tidak mengesampingkan perannya sebagai madrasatul ula.



Jangan bebankan dirimu dengan sesuatu yang bukan menjadi peranmu sebagai perempuan. Sebab itu melawan fitrah. Sedangkan sesuatu yang melawan fitrah rasanya gak nyaman, bikin stress. Jadilah perempuan yang idealis dengan menjadikan Islam sebagai landasanmu berpikir. Jadilah perempuan yang idealis dengan menjadikan Islam sebagai landasanmu berpikir.




Jadikan Islam Sebagai Point Of View


Jadikan Islam Sebagai Point of View
Sumber foto : Pixabay


Allah Swt menciptakan makhluk berjenis perempuan bukan tanpa maksud. Bukan pula sekedar pelengkap jenis makhluk yang Allah Swt ciptakan. Apalagi sekedar pelengkap hidup kaum adam. Big no!


Allah Swt itu menciptakan perempuan dengan segala potensi yang dia miliki untuk sebuah amanah besar. Perempuan secara fisik, akal maupun mental tak akan bisa dipaksakan untuk setara dengan kaum adam. Ia memiliki amanah berbeda yang menjadi kekhususannya sebagai perempuan.


Maka dari itu, dalam menentukan standar pencapaian tak dapat pula melawan fitrahnya sebagai perempuan. Jika ini terjadi maka akan menimbulkan ketidaknyamanan tersebab ia meninggalkan sesuatu yang telah menjadi tanggung jawabnya.


Fungsi utama perempuan adalah menjadi seorang ibu terlepas apakah ia bisa mengandung atapun mandul. Dengan demikian, Allah Swt. menciptakan perempuan dengan seperangkat sifat/karakter untuk keberlangsungannya sebagai seorang ibu, seperti menyusui, multitasking, fungsi retina yang menyebar, detail, lembut, baperan, dll. Dari rahim perempuan kita menyadari bahwa ada regenerasi sebuah peradaban manusia disana. Dan ini tak dapat dielakkan. Bayangkan, kita adalah pusat regenerasi. Regenerasi kaum muslim yang berfungsi sebagai pengurus bumi (khalifatu fil ardhi).


Luar biasa bukan? Allah Swt. menciptakan makhluk bernama perempuan itu dengan sangat istimewa. Sampai sini sudahkah kita paham, kita begitu istimewa. So, kenapa pula harus menyetarakan/disetarakan dengan kaum adam?


Dari fungsi utama ini kita bisa urai secara detil apa aja nih standar pencapaian perempuan. Yang jelas ia harus mendukung poin pertama. Fungsi utama yang sudah dijelaskan sebelumnya kita anggap sebagai fitrah, maka segala aktivitas yang menentangnya akan menimbulkan kerusakan.


Islam tak mengenal konsep kesetaraan gender. Islam mengatur urusan perempuan dengan menitikberatkan pada keunikannya. Kalaupun dalam Islam thalabul ilmi diwajibkan atas laki-laki dan perempuan, hal ini pun tidak lantas bisa dikatakan bahwa Islam mendukung kesetaraan gender. Karena fungsi dasar thalabul ilmi dalam Islam adalah agar manusia tahu bagaimana mencapai keridaan Allah Swt.


Islam mengatur urusan perempuan dengan sangat unik. Islam pun hanya mewajibkan sesuatu yang mampu perempuan amalkan. Peraturan-peraturan dalam Islam tidak merusak fitrahnya sebagai perempuan. Justru menjadikannya mulia dan lebih berharga daripada perhiasaan dunia. Mulianya perempuan dalam Islam bisa dilihat dari berbagai hal, seperti aturan berpakaian, perwalian, hingga hukum waris.


Islam menganggap bahwa perempuan juga berkewajiban diikutsertakan dalam menyebarkan pemahaman Islam. Meski bukan pada ranah jihad secara fisik, tetapi dengan akal dan kemampuan lain yang dia miliki bisa membuatnya menjadi perempuan yang militan.


Dari sini jelas bahwa Allah Swt. memberikan tugas perempuan sebagai manusia (khalifatu fil ardh) disamakan kewajibannya dengan laki-laki, yaitu ikut serta dalam menyebarkan ajaran Islam, tentunya dengan kapasitasnya dia sebagai seorang perempuan. Nah, untuk memenuhi syarat sebagai penyeru kebaikan. Karena menyeru kebaikan (amar ma'ruf nahi mungkar) adalah sebuah kewajiban maka Islam pun mewajibkan perempuan untuk berthalabul ilmi.


Thalabul ilmi dalam hal apa? Dalam hal guna mendukung aktivitasnya dalam menyerukan kebajikan (amar ma'ruf nahi mungkar). Bukan untuk menjadikannya sederajat dalam hal karir dan jabatan.


Islam mendudukkan posisi perempuan sesuai dengan fitrahnya, sesuai dengan karakternya. Tidak menyelisihi keduanya. Maka dari itu, ketika Islam digunakan sebagai point of view, sebagai perempuan ketika dilanda stres, kebimbangan, galau tak berkesudahan, baper belum nikah-nikah. Dia seharusnya gampang pulih, sebab ia tahu persis apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Dia tahu persis bagaimana seharusnya dia memposisikan dirinya agar kehormatannya tetap terjaga.

0
Share



Apa yang terbesit pertama kali saat mendengar kata hijrah?


Hijrah dimaknai sebagai mengubah kondisi dari yang kurang baik menjadi baik. Dan begitulah kira-kira yang kita tahu selama ini. Menurut Syekh Ibnu Athaillah dalam kitabnya yang berjudul al Hakam, secara istilah hijrah diartikan sebagai upaya keras untuk memberikan hati dan jiwa kepada Allah Swt.. Sedangkan dalam konteks sejarah, hijrah yaitu kegiatan perpindahan Rasulullah Saw. dan para sahabat dari Mekah menuju Madinah dengan tujuan mempertahankan dan menegakan risalah berupa akidah dan syariat.


Namun seringkali kita bingung menjawab apa alasan kita berhijrah dan demikian pula kita luput dari apa alasan kita menegakkan syariat Allah Swt.?


Kebingungan itu justru lahir karna ketakutan kita sendiri, tak jarang kita yang masih ragu dalam berhijrah hanya karna alasan akan dijauhi oleh lingkungan atau pergaulan sebelumnya. Kita takut akan di cap sok alim padahal maksiat masih terus dijalani, belum lagi pikiran jika hijrah nanti rizki akan susah dicari, ujian-ujian yang pasti terus ada dan juga ketakutan-ketakutan lainnya.


Teman salihah, ingatlah janji Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman,

"Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki mau­pun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An- Nahl: 97)


Masihkah kita takut? Sedangkan Allah Swt. sudah menjanjikan bahwa Dia akan memberikan kehidupan yang baik bagi siapa saja yang beramal sholeh dengan kehidupan yang baik.


Kehidupan yang baik tak hanya soal rizki yang melimpah, tapi juga tentang rizki yang berkah, berteman dengan orang-orang yang juga melangkah dan belajar untuk mencari ridaNya, teman yang menggandeng dalam keistikamahan menjalankan syariatNya, saling mengingatkan dalam syukur dan sabar atas nikmat serta ujian yang diberikan.


Mengutip pernyataan dari Dr. Zaidul Akbar:

“Dan hidayah itu harus dijemput bukan ditunggu. Hidayah itu akan diberikanNya jika sang hamba bersungguh-sungguh mengejarnya dan jika hidayah itu sudah diberiNya maka dunia dan segala isinya tidak akan bisa dibandingkan dengan hidayah yang membuat hidupnya menjadi berharga.”


Teman salihah, mungkin banyak dari kita yang belum sadar bahwa Allah Swt. sudah memberikkan tanda-tanda hidayah kepada kita. Salah satunya melalui majelis ilmu. Majelis ilmu mengajarkan kita bagaimana menjadi muslim yang berani, muslim yang bangga akan identitasnya, muslim yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, muslim yang tak hanya pandai teori namun juga ringan mengaplikasikannya dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.


Teman salihah, tak perlu berkecil hati ketika kita menyadari bahwa masih bahwa banyak kekurangan dalam diri. Teruslah berusaha menjalankan syariatnya, teruslah berjalan, pelan tapi pasti, langkahmu tak harus terus sempurna, prosesmu tak harus selalu berhasil, kegagalan adalah bentuk muhasabah diri, temukan teman hijrahmu dengan terus meminta ridaNya. Semangat barakallahu fikum.


Dari aku teman hijrahmu.

Diah Ummu Akhtar

0
Share



Quarter life crisis istilah yang sering terdengar dikalangan pemuda. Keresahan tentang masalah hidup, kisah cinta atau mungkin cita-cita. Kebanyakan mereka hanya berpikir terkait dunia semata. Hanya beberapa yang khawatir mengenai akhlak pemuda yang kian hari semakin tak terkenali. Kenakalan remaja, seks bebas, minuman keras dan masih banyak lagi. 


Resah memang wajar, tapi apakah harus menyampingkan akidah dalam berpikir? Ironi, prinsip-prinsip yang keliru ini secara tidak langsung telah merasuk ke dalam pikiran pemuda. 


Sekarang ini banyak pemuda yang hilang jati diri. Bingung mau kemana, untuk apa mereka hidup dan akan jadi apa kelak ia di masa depan. Dan yang terpikir oleh mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang lebih banyak setiap hari. 


Inilah fenomena kapitalisme yang secara tidak langsung sudah masuk ke dalam pikiran para pemuda, mereka yang duduk di bangku perkuliahan pun hanya memikirkan bagaimana mengembalikan modal (biaya pendidikan) yang telah ia keluarkan. Dengan menghitung digit demi digit angka pada lembaran uang kertas. Sehingga berekspektasi lebih terhadap gaji yang akan diterima dan melalaikan kewajibannya sebagai hamba. 


Dunia pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi hanya berlomba-lomba mencetak insan yang dapat bersaing dalam dunia kerja. Akhlak dan kepedulian tentang agama tidak diterapkan secara menyeluruh. Akibatnya banyak pemuda menjadi pemimpin negara yang kemudian akhlaknya jauh dari ajaran agama. 


Dekat-dekat ini juga banyak berita beredar, seorang ayah kandung tega menyetubuhi anaknya sendiri. Miris! Seorang kepala keluarga yang malah merusak masa depan anaknya sendiri. Itulah sebabnya setan tak perlu lagi bersusah payah menggoda manusia. 


Manusia kini lebih buruk hati dan nuraninya daripada setan. Inilah buah dari pendidikan zaman ini yang membuat seseorang semakin jauh dari akhlakul karimah. 


Terkait quater life crisis dan kerisauan para pemuda tentang masa depan sesungguhnya telah tertulis dan dijelaskan dalam Alquran. 


"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS Ali 'Imran [3] :173)


Jika kita berserah dan selalu melibatkan Allah Swt. dalam setiap langkah hidup kita InsyaaAllah hidup akan terasa ringan walaupun banyak rintangan di depan. Karena setiap hamba telah dituliskan takdir dan jalan hidupnya pada Lauhulmahfuz sebelum alam semesta ini diciptakan. Yakin dan selalu menempatkan Allah Swt. di atas segalanya adalah yang terbaik. 


Allah Swt. sebenar-benarnya pemberi petunjuk. InsyaAllah.



Penulis : Dessy Anggraini (Sobat AMAZE)

0
Share



Ketika membahas tentang mengubah kebiasaan, pandangan orang akan mengarah pada hal-hal besar. Mereka menggantungkan harapan yang besar pada perubahan tersebut yang bahkan belum dilakukan. Tanpa usaha, niat saja tidaklah cukup untuk mengubahnya. Jika demikian yang ada hanyalah khayalan atau angan-angan yang entah kapan perubahan itu akan terjadi.


Ada pula seseorang dengan motivasi yang tinggi mendambakan sebuah perubahan. Kebiasaan baru dipaksa terbentuk dalam kurun waktu yang singkat. Apakah strategi seperti ini bisa bertahan lama? Sayangnya, tidak juga.


Dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits, James Clear mendefinisikan kebiasaan sebagai rutinitas atau praktik yang dilakukan secara teratur; tanggapan otomatis terhadap situasi tertentu.


Perlu diketahui bahwa kebiasaan hanyalah buah dari perbaikan diri. Kebiasaan bukanlah pondasi dasar dari suatu perubahan, namun ia hanyalah rutinitas yang dihasilkan dari berbagai motivasi. Maka ketika seseorang memutuskan untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, ia harus memiliki strategi dan motivasi yang kuat agar kebiasaan lama tidak kembali lagi.


Atomic Habits

Tidak ada perubahan besar yang luput dari perubahan-perubahan kecil. Perubahan besar lahir dari keputusan-keputusan kecil sebelumnya. Sekecil atom yang tidak dapat terbagi lagi. Maka kita tak boleh meremehkan rutinitas-rutinitas kecil yang mampu mengantarkan kita pada perbaikan diri.


Sesuai istilah yang diberikan oleh James Clear, “Atomic Habits”. Bagaimana perubahan kecil sedikit saja mampu untuk menghasilkan perbedaan besar. Ia mengibaratkannya dengan perubahan arah pesawat. Jika saja seorang pilot mengarahkan pesawatnya kearah 3,5 derajat ke selatan, maka ia akan mendapati sasaran landasan yang bukan lagi di titik 0 derajat. Ada celah antara titik mula dan titik setelah pilot mengubah arah pesawat. Inilah kontribusi atomic dalam membentuk habits.


Beruntungnya manusia yang dikehendaki oleh Allah Swt. sebagai seorang mukmin (orang yang beriman). Sebab dalam Islam ada banyak sekali kebiasaan baik. Dan ketika seorang mukmin menggunakan aturan-aturan Allah Swt. dalam segala rutinitasnya maka akan terbentuk kebiasaan-kebiasaan baik yang tidak pernah diajarkan oleh selain Islam.


Kebiasaan baik yang Allah Swt. ajarkan berupa fikih Islam sangat detail dan luas ilmunya. Maka, jika seorang muslim terbiasa melaksanakannya, ia tak’kan pernah merasa berat untuk membentuk kebiasaan baik yang baru.


Mendefinisikan Identitas

Ada banyak motivasi diri yang membawa seseorang pada perubahan. Terlepas apakah perubahan tersebut mampu bertahan dalam waktu yang lama atau hanya mampir sebagai angin lalu. Banyak orang memulai proses pengubahan kebiasaan dengan berfokus pada apa yang akan mereka raih. Motivasi seperti ini mengantarkan ia pada kebiasaan berbasis hasil.


Semestinya ketika seseorang memutuskan untuk berhijrah, mengubah cara pandangnya, berpindah tempat pergaulannya, mengadaptasi pemikiran baru yang lebih baik, meng-upgrade diri, ia membutuhkan motivasi lain yang lebih dari sekedar pengubahan. Alternatifnya adalah membangun identitas diri. Berfokus pada kita ingin menjadi sosok seperti apa. Jadikan kebiasaan sebagai bagian dari identitas diri.


Ciri khas yang menjadikan muslim berbeda dengan yang lain adalah bahwa semua tindakan atau aktivitasnya pada semua keadaan yang dihadapi bersumber dari iman. Kepercayaan tanpa keraguan selain disebut sebagai iman, juga disebut dengan kata akidah.


Secara bahasa akidah berasal dari kata benda عَÙ‚َدَ yang maknanya mengikat, menyimpulkan, menggabungkan, (sumber: almaany). Kata عَÙ‚َدَ jika berubah menjadi kata sifat berganti kata menjadi عَÙ‚ِÙŠْدَØ©. Artinya ketika seseorang sudah menyatakan dirinya beriman maka langkah selanjutnya adalah mengikat iman itu dengan akidah. Iman yang terikat kuat dengan akidah inilah yang akan membentuk identitas diri (prinsip). Sesuai dengan seruan Allah Swt. dalam QS. Ali Imran : 102.


ÙŠَٰٓØ£َÙŠُّÙ‡َا ٱلَّذِينَ Ø¡َامَÙ†ُوا۟ ٱتَّÙ‚ُوا۟ ٱللَّÙ‡َ Ø­َÙ‚َّ تُÙ‚َاتِÙ‡ِÛ¦ ÙˆَÙ„َا تَÙ…ُوتُÙ†َّ Ø¥ِÙ„َّا ÙˆَØ£َنتُÙ… Ù…ُّسْÙ„ِÙ…ُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”


Perubahan perilaku adalah perubahan identitas. Ada sejuta alasan untuk memulai kebiasaan baru karena motivasi, namun satu-satunya yang menjadikan istikamah adalah karena itu bagian dari identitas atau prinsip hidup.


Mengubah kebiasaan lama menuntut seseorang untuk meng-upgrade ilmu, sebab mustahil seorang terikat hanya pada satu versi identitas diri. Kemajuan menuntut diri untuk terus belajar menjadi versi terbaik diri kita dari yang lalu. Itulah sebabnya dalam Islam, Allah Swt. mewajibkan berthalabul ilmi dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Karena Allah Swt. menginginkan kita hari ke hari menjadi pribadi yang lebih baik.

0
Share

Bagaimana mengetahui bahwa Allah Swt. rida pada kondisi kita saat ini? Pertanyaan seperti ini biasanya muncul saat manusia sedang merasakan kekhawatiran, kebimbangan, keresahan akibat sesuatu yang tak sesuai harapan dan saat sedang mengalami takdir yang cukup pelik. Pada kondisi ini meski sebetulnya akal mampu berpikir benar namun perasaan mendominasi pemikiran. Maka disituasi seperti ini kita butuh ruang untuk bisa berfikir, nasihat yang melegakan dan melapangkan hati atas ketetapan yang sedang terjadi. Secara fitrah, akal mampu tunduk pada kebenaran. Jika terasa takdir yang dialami sekarang tidaklah bisa diterima mungkin saja nafsu manusianya yang belum mampu untuk ditundukkan.


Takdir yang buruk menurut KITA belum tentu baik menurut Allah Swt. Begitu pula sebaliknya, takdir yang baik menurut MANUSIA belum tentu baik menurut Allah Swt.

Mengapa saya menggunakan frasa KITA pada takdir yang buruk, sedangkan takdir baik menggunakan frasa MANUSIA? Sebab biasanya saat mengalami takdir yang buruk, kita seringkali menggunakan asumsi kita sendiri untuk memaknai keadaaan, bukan asumsinya Allah Swt. Sedangkan saat mengalami takdir yang baik, manusia lebih banyak sombong atau merasa bahwa apa yang dicapainya hari ini adalah berkat jerih payahnya selama ini, berkat kehebatannya sendiri.

Sekarang mari kita coba maknai kalimat itu dengan berbagi kisah.

Ada seorang suami yang diberikan hasil panen melimpah, tapi dalam prosesnya dia lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba. Shalat telat hingga tak sempat. Lalai dalam menuntut ilmu, lalai dari kewajiban mendidik anak dan istri. Tetapi Allah Swt. melimpahkan hasil panennya. Apakah yang demikian bisa dikatakan bahwa Allah Swt. rida? Sedangkan semakin hari ia semakin luput dari nikmat Allah Swt.

Ada pula kisah seorang perempuan yang sulit sekali menegakkan syari'at di tempat ia bekerja. Sulit rasanya untuk mengenakan jilbab (gamis), sulit menghindari untuk tidak berbaur dengan laki-laki. Hingga ia semakin terbiasa dan semakin nyaman dengan habits yang tidak apa-apa (tidak apa-apa tidak memakai gamis asal longgar, tidak apa-apa berbaur dengan non-mahram). Padahal berpakaian dengan menutup aurat sesuai standar aturan Islam adalah sebuah kewajiban bagi perempuan. Pakaian longgar bukan satu alasan yang membuat memakai jilbab (gamis) menjadi boleh ditinggalkan. Tidak ada alasan lain bagi perempuan untuk menggunakan jilbab dan khimar kecuali itu adalah perintah Allah Swt.

Maka keridaan Allah Swt. itu bukan pada gampang atau tidaknya rizki itu diraih, bukan pada susah atau mudahnya cita-cita digapai, bukan pada melimpahnya rizki. Namun pada "sudahkah bisa kutegakkan hukum-hukum Allah Swt.?" atau "Sudah lebih dekatkah aku kepada Allah Swt. di posisiku hari ini?" Dan kriteria inipun berlaku pada aktivitas apapun.

0
Share



Sebelum menjadi ajeg seperti sekarang, banyak banget ujian keistiqamahan dalam berjilbab. Saya yakin semua orang yang baru mulai berhijrah akan merasakan gejolak perasaan yang sama, antara tetap menjadi seperti saat ini atau melangkah mencari jati diri yang lebih baik. Perasaan itulah yang membuat saya akhirnya susah istiqamah. Bagi saya secara akal, ketika saya tidak segera menunaikan kewajiban dalam berjilbab maka itu adalah sebuah kemaksiatan. Namun dari sisi perasaan ada rasa yang berkecamuk seperti takut dibully, ada rasa apakah nanti saya akan tetap diterima oleh keluarga dan lingkungan. Dan sejatinya perasaan-perasaan ini hanyalah bisikan setan yang membuat saya ragu untuk berpakaian sesuai standar Islam.

Saya lahir dari keluarga muslim sekuler, tidak begitu memperhatikan nilai-nilai Islam. Seluruh amalan hanya sebatas ibadah ritual, seperti tidak boleh meninggalkan sholat, berpuasa ketika bulan ramadan, dan berzakat saat idul fitri tiba.

Selain karena alasan biayanya yang murah meriah dan masih terjangkau kantong keluarga. Merasa tidak butuhnya belajar agama pun selanjutnya ditopang dengan bersekolah di sekolah-sekolah negeri, SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri hingga Perguruan Tinggi Negeri.

Namun mungkin itulah jalan yang memang harus saya lalui untuk menjadi seperti saat ini. Petunjuk itu Allah Swt. hadirkan bersamaan dengan saya akan lulus kuliah, beberapa bulan sebelum sidang skripsi.

Awal mengaji intensif tahun 2015. Saya mulai "berusaha" mengenakan jilbab (gamis) di area kampus. Dan ya, itu aneh banget rasanya namun bersyukur sekali teman-teman cicing wae melihat perubahan itu. Ujian hijrah pertamapun dimulai. Perasaan tidak nyaman akibat pandangan orang lain masih terus menghantui hingga beberapa dekade. Pikiran saya masih saja digempur dengan pertanyaan, "sudah benarkah saya dijalan ini?" Padahal tanda-tanda dari Allah Swt. sudah jelas, bahwa berjilbab hukumnya wajib bagi perempuan muslim. Jadi akal dan perasaan itu saling menggempur, mereka berperang dalam arena tempur yang saya sebut sebagai thoughtful.

Saya merasa tidak mampu, saya merasa berjuang sendirian padahal saya sudah mengikuti komunitas hijrah, berkelompok dengan mereka yang sama-sama berjuang untuk istiqamah namun apa yang salah dengan diri saya?

Sempat mundur dan kabur dari perhalaqahan, saya merasa benar-benar tidak mampu melaksanakan syariat tentang berjilbab. Begitu sulit menegakkan perintah Allah Swt. yang satu ini. Saya tahu bahwa keputusan saya keluar adalah sesuatu yang akan membawa saya kepada hal yang bisa jadi kondisinya berada pada titik awal lagi. Dimana ketika saya akan memulainya lagi, akan ada ujian itu lagi, hijrah kemudian ujian berjilbab lagi, begitu seterusnya hingga Allah Swt. katakan kamu sudah lulus.

Saya merasakan nikmatnya berhijrah. Namun saya tidak mampu merasakan nikmatnya istiqamah (konsisten). Dan saya telah salah memilih kabur dari ujian keistiqamahan dari Allah Swt. Sebab dimana saya memutuskan berhenti maka disitulah titik pertolongan dari Allah Swt. juga berhenti. Sejatinya saya hanya berusaha lari namun tidak mendapatkan solusi.

Konsisten dalam berjilbab dimulai ketika suami membawa saya kekontrakan. Rumah mungil penuh berkah yang hanya memiliki satu pintu dibagian depan sehingga memaksa saya untuk mengenakan jilbab plus khimar beserta kaos kaki meski sekedar menjemur pakaian diteras. Sebab halaman depan sudah kontrakan orang lain berisi laki-laki asing (non-mahram). Diujian kedua ini, saya tidak mau gagal. Saya ingin lulus dengan predikat nyaman meski ribet. Dengan tekad itu, konsekuensinya berarti saya harus sabar dengan keribetannya.

Entah dimomen apa kemudian saya memutuskan untuk mendonasikan semua pakaian yang menurut saya tidak sesuai dengan standar pakaian seorang muslimah. Tak sesuai dengan QS. Al Ahzab: 59 dan QS. An Nur: 31. Dalam benak saya, ketika saya masih memiliki pakaian-pakaian tersebut maka hal itu akan terus menimbulkan nafsu untuk memakainya diluar rumah (hayyatul am). Memang terkesan memaksakan diri sendiri. Namun bukankah Allah Swt. mengarahkan kita demikian? Dia tak 'kan mengubah sesuatu pun pada diri hambanya kecuali hamba tersebut berusaha untuk mengubahnya. Dan bagi saya inilah cara saya untuk menjemput pertolongan Allah Swt.

Disesi ini, Alhamdulillah Allah Swt. kemudian meluluskan saya.
1
Share

Bumi ini masih digemparkan dengan pandemi covid-19 selama hampir dua tahun. Entah kapan berakhirnya. Begitu banyak orang terkasih yang Alloh Swt ambil untuk menghadapnya. Para ulama zuhud yang gencar menyuarakan aspirasi umat tanpa rasa takut posisinya dibabat.

Kini, siapa lagi yang akan melindungi umat saat satu persatu dari mereka diangkat?

Belum lagi ilmu yang mereka dapat apakah sudah sampai kepangkuan umat?

Banyaknya ulama yang wafat harusnya menjadikan kita sadar betapa pentingnya literat. Membaca, mencari ilmu dengan giat, mengisi waktu luang dengan menimba ilmu yang bermanfaat. Tidak melulu soal keduniaan melainkan juga soal akhirat.

Tugas mereka didunia telah usai, tinggal menunggu hisab. Tapi tidak dengan kita yang ditinggalkan. Begitu banyak hal yang sepertinya baru atau sekadar ingin dilakukan.

Kayaknya baru kemarin memberanikan diri untuk hijrah.

Kayaknya baru kemarin belajar Islam kaffah.

Kayaknya baru kemarin giat ibadah.

Kayaknya baru kemarin mau berubah.

Tak peduli apakah covid nine teen suatu konspirasi. Satu yang pasti, pandemi ini benar-benar menyadarkan betapa hanya kuasa Alloh Swt yang dapat membuat jiwa dan raga terpisah. 

Ya Rasulullah, kami rindu hingga hati ini tak kuat ingin mengadu. Saat pewaris para nabi diangkat ke pangkuan sang ilahi, jalan yang kami tempuh pun akan semakin terjal dan berduri. Mampukan kami memikul beratnya amanah yang gunung pun tak sudi.

Ya Rasulullah, sungguhpun kami tak rela saat bumi mati tanpa Islam dan Syaria.

 

Penulis : Riska Malinda

0
Share



Insecure. Kata ini belakangan udah nggak asing lagi dikalangan remaja. Yups! Insecure itu seperti rasa nggak percaya diri yang lagi mendominasi banget dalam diri seseorang. Rasa tidak percaya diri, sering merasa tidak percaya diri akibat mendengar komentar orang terhadap fisik atau materi, rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri hingga berujung minder. Bahkan seringkali insecure menjadikan mereka tak be yourself.

Keadaan yang demikian bisa membuat kamu pada akhirnya lupa bersyukur. Padahal Allah Swt sendiri berfirman dalam Alquran surah Al Hujurat ayat 13.

"Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi allah ialah yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”

Dear, muslimah.

Yuk! kita mulai bersyukur, mari kita ingat janji Allah Swt dalam Alquran surah Ibarahim ayat ke-7 yang artinya,

"Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya aku akan menambah ( nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Begitulah manusia cenderung melihat kemuliaan dan kehinaan dari porsi banyak sedikitnya harta, baik buruknya paras. Padahal yang membedakan diri kita dari manusia yang lain dihadapan Allah Swt hanyalah ketakwaan.

Allah Swt Sang Maha Mengatur segala sesuatu telah menetapkan manusia sesuai dengan porsinya masing-masing. Setiap manusia diciptakan oleh Allah Swt sudah dengan kadar yang paling sempurna. Syukuri segala yang telah Allah Swt berikan, tak perlu malu tak berparas cantik, tak perlu malu berkulit hitam, tak perlu malu tak banyak harta. Sebab Allah Swt tak melihat bentuk rupa dan harta melainkan dari dari niat dan amal shalih.

Gara-gara insecure tak sedikit kelompok remaja yang akhirnya malah melakukan kekufuran. Mereka rela melakukan operasi plastik dengan biaya mahal untuk mengubah bentuk dan rupa fisik. Padahal Allah Swt melarang perbuatan tersebut.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Semoga Allah Swt melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Alloh Swt.” (HR. Bukhari 4886)

Selain itu, banyak juga yang menjual agama dengan menyembah sesembahan selain Allah Swt demi memiliki harta yang melimpah. Mempertaruhkan harga diri hanya demi bisa terlihat lebih good looking seperti standar anak kekinian.

Percayalah muslimah, dibalik segala kekuranganmu pasti Allah Swt berikan kelebihan dari sisi lain. Sebab Allah Swt Maha Mengetahui serta Maha Mengenal ciptaan-Nya. Mulai saat ini hargailah dirimu sendiri. Percayalah pada kemampuanmu. Cintai dirimu. Buktikan bahwa cantik tak harus dengan paras menarik. Cantik tak harus berkulit putih. Berharta melimpah. Cukup menjadi muslimah terbaik sesuai dengan syariat islam. Remember this shalihah, penilaian Allah Swt jauh lebih penting diatas penilaian manusia.

Be your self, agar hidup lebih indah dan tak hilang arah.

 

Penulis : Diah Ummu Akhtar

Editor : Riska Malinda


0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Follow Us

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Labels Cloud

Kisah Inspiratif Motivasi Nafsiyah Parenting Resensi Buku Tsaqafah

Categories

  • Kisah Inspiratif (1)
  • Motivasi (10)
  • Nafsiyah (6)
  • Parenting (4)
  • Resensi Buku (1)
  • Tsaqafah (4)

Popular Posts

Labels

Kisah Inspiratif Motivasi Nafsiyah Parenting Resensi Buku Tsaqafah
Copyright © 2015 amaze.

Created By ThemeXpose Blogger Templates