Sebelum menjadi ajeg seperti sekarang, banyak banget ujian keistiqamahan dalam berjilbab. Saya yakin semua orang yang baru mulai berhijrah akan merasakan gejolak perasaan yang sama, antara tetap menjadi seperti saat ini atau melangkah mencari jati diri yang lebih baik. Perasaan itulah yang membuat saya akhirnya susah istiqamah. Bagi saya secara akal, ketika saya tidak segera menunaikan kewajiban dalam berjilbab maka itu adalah sebuah kemaksiatan. Namun dari sisi perasaan ada rasa yang berkecamuk seperti takut dibully, ada rasa apakah nanti saya akan tetap diterima oleh keluarga dan lingkungan. Dan sejatinya perasaan-perasaan ini hanyalah bisikan setan yang membuat saya ragu untuk berpakaian sesuai standar Islam.
Saya lahir dari keluarga muslim sekuler, tidak begitu memperhatikan nilai-nilai Islam. Seluruh amalan hanya sebatas ibadah ritual, seperti tidak boleh meninggalkan sholat, berpuasa ketika bulan ramadan, dan berzakat saat idul fitri tiba.
Selain karena alasan biayanya yang murah meriah dan masih terjangkau kantong keluarga. Merasa tidak butuhnya belajar agama pun selanjutnya ditopang dengan bersekolah di sekolah-sekolah negeri, SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri hingga Perguruan Tinggi Negeri.
Namun mungkin itulah jalan yang memang harus saya lalui untuk menjadi seperti saat ini. Petunjuk itu Allah Swt. hadirkan bersamaan dengan saya akan lulus kuliah, beberapa bulan sebelum sidang skripsi.
Awal mengaji intensif tahun 2015. Saya mulai "berusaha" mengenakan jilbab (gamis) di area kampus. Dan ya, itu aneh banget rasanya namun bersyukur sekali teman-teman cicing wae melihat perubahan itu. Ujian hijrah pertamapun dimulai. Perasaan tidak nyaman akibat pandangan orang lain masih terus menghantui hingga beberapa dekade. Pikiran saya masih saja digempur dengan pertanyaan, "sudah benarkah saya dijalan ini?" Padahal tanda-tanda dari Allah Swt. sudah jelas, bahwa berjilbab hukumnya wajib bagi perempuan muslim. Jadi akal dan perasaan itu saling menggempur, mereka berperang dalam arena tempur yang saya sebut sebagai thoughtful.
Saya merasa tidak mampu, saya merasa berjuang sendirian padahal saya sudah mengikuti komunitas hijrah, berkelompok dengan mereka yang sama-sama berjuang untuk istiqamah namun apa yang salah dengan diri saya?
Sempat mundur dan kabur dari perhalaqahan, saya merasa benar-benar tidak mampu melaksanakan syariat tentang berjilbab. Begitu sulit menegakkan perintah Allah Swt. yang satu ini. Saya tahu bahwa keputusan saya keluar adalah sesuatu yang akan membawa saya kepada hal yang bisa jadi kondisinya berada pada titik awal lagi. Dimana ketika saya akan memulainya lagi, akan ada ujian itu lagi, hijrah kemudian ujian berjilbab lagi, begitu seterusnya hingga Allah Swt. katakan kamu sudah lulus.
Saya merasakan nikmatnya berhijrah. Namun saya tidak mampu merasakan nikmatnya istiqamah (konsisten). Dan saya telah salah memilih kabur dari ujian keistiqamahan dari Allah Swt. Sebab dimana saya memutuskan berhenti maka disitulah titik pertolongan dari Allah Swt. juga berhenti. Sejatinya saya hanya berusaha lari namun tidak mendapatkan solusi.
Konsisten dalam berjilbab dimulai ketika suami membawa saya kekontrakan. Rumah mungil penuh berkah yang hanya memiliki satu pintu dibagian depan sehingga memaksa saya untuk mengenakan jilbab plus khimar beserta kaos kaki meski sekedar menjemur pakaian diteras. Sebab halaman depan sudah kontrakan orang lain berisi laki-laki asing (non-mahram). Diujian kedua ini, saya tidak mau gagal. Saya ingin lulus dengan predikat nyaman meski ribet. Dengan tekad itu, konsekuensinya berarti saya harus sabar dengan keribetannya.
Entah dimomen apa kemudian saya memutuskan untuk mendonasikan semua pakaian yang menurut saya tidak sesuai dengan standar pakaian seorang muslimah. Tak sesuai dengan QS. Al Ahzab: 59 dan QS. An Nur: 31. Dalam benak saya, ketika saya masih memiliki pakaian-pakaian tersebut maka hal itu akan terus menimbulkan nafsu untuk memakainya diluar rumah (hayyatul am). Memang terkesan memaksakan diri sendiri. Namun bukankah Allah Swt. mengarahkan kita demikian? Dia tak 'kan mengubah sesuatu pun pada diri hambanya kecuali hamba tersebut berusaha untuk mengubahnya. Dan bagi saya inilah cara saya untuk menjemput pertolongan Allah Swt.
Disesi ini, Alhamdulillah Allah Swt. kemudian meluluskan saya.
.jpg)