Ketika berbicara tentang pekerjaan kita akan dihadapkan pada dua sudut pandang yang berbeda yaitu antara kalangan materialisme dan kalangan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Orang-orang kapitalisme dan materialisme ketika ditanya tentang mengapa kita hidup ini harus bekerja? Maka jawaban yang muncul dari mulut mereka adalah jawaban yang standar yaitu bahwa pekerjaan adalah cara untuk mendatangkan profit yang cukup untuk memenuhi apa yang kita inginkan.
Namun jika pertanyaan semacam itu diberikan kepada orang yang beriman. Maka jawaban seperti itu tidaklah sepadan karena sudut pandang kapitalisme dan orang yang beriman sudah tentu bertolak belakang. Bagi orang beriman, bekerja merupakan bagian dari perintah Allah bukan sekedar untuk mencari pemenuhan fasilitas-fasilitas kehidupan. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseur untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. al Jumu’ah [62]: 9-10)
Allah mengajarkan kepada kita didalam QS. al Jumu’ah diatas jika sudah dilaksanakan shalat maka bersegeralah kamu bertebaran di atas muka bumi untuk mencari karunia Allah, tidak lupa untuk berdzikir semoga dengan itu kamu beruntung.
Kalau kita sorot ayat ini ternyata
Allah memberikan kepada kita sebuah garis komando bahwasannya kalau kita habis
melaksanakan shalat Jumat, Allah tidak menyuruh kita untuk duduk lama di dalam
masjid, Allah tidak menyuruh kita untuk berdzikir sampai ashar, Allah pun tidak
menyuruh kita untuk tilawah sampai maghrib. Namun ketika setiap orang telah
melaksanakan shalat Jumat di dalam pelaksanaan kewajiban sekali dalam sepekan,
maka Allah memerintahkan agar kita bertebaran di atas muka bumi untuk mencari
karunia Allah.
Ayat ini menjadi sebuah referensi
sekaligus kunci jawaban bahwasannya yang memerintahkan kita untuk keluar dari
masjid untuk bekerja adalah Allah. Didalam Islam ibadah tidak dimaknai secara sempit
hanya terbatas pada ruang, waktu dan tempat khusus ibadah. Bahkan keluarnya
kita dari masjid, keluarnya kita dari rumah ketika kita meniatkan apa yang kita
lakukan dan kerjakan untuk mencari karunia Allah dengan cara-cara yang halal,
maka itu merupakan bagian dari ibadah.
Apabila kita niatkan bekerja dengan niat yang benar, poros hati yang benar hanya karena Allah, menyadari bahwa ini adalah bagian dari perintah Allah. Maka itulah yang menjadikan kita paham berkerja bukan hanya sensasi mencari rezeki, bukan hanya sensasi untuk mendapatkan gaji, bukan hanya sensasi ketika mendapatkan jabatan dan mendapatkan kedudukan. Tapi sesungguhnya bekerja merupakan bagian dari salah satu seni ibadah yang indah ketika Allah menyuruh kita. Prinsip dan pemahaman inilah yang menjadikan seorang muslim terhindar dari keharaman saat mencari rizki dan bekerja.






.jpg)


