[MOTIVASI] BAGAIMANA AGAR TAHU BAHWA ALLAH SWT. RIDA?

Bagaimana mengetahui bahwa Allah Swt. rida pada kondisi kita saat ini? Pertanyaan seperti ini biasanya muncul saat manusia sedang merasakan kekhawatiran, kebimbangan, keresahan akibat sesuatu yang tak sesuai harapan dan saat sedang mengalami takdir yang cukup pelik. Pada kondisi ini meski sebetulnya akal mampu berpikir benar namun perasaan mendominasi pemikiran. Maka disituasi seperti ini kita butuh ruang untuk bisa berfikir, nasihat yang melegakan dan melapangkan hati atas ketetapan yang sedang terjadi. Secara fitrah, akal mampu tunduk pada kebenaran. Jika terasa takdir yang dialami sekarang tidaklah bisa diterima mungkin saja nafsu manusianya yang belum mampu untuk ditundukkan.


Takdir yang buruk menurut KITA belum tentu baik menurut Allah Swt. Begitu pula sebaliknya, takdir yang baik menurut MANUSIA belum tentu baik menurut Allah Swt.

Mengapa saya menggunakan frasa KITA pada takdir yang buruk, sedangkan takdir baik menggunakan frasa MANUSIA? Sebab biasanya saat mengalami takdir yang buruk, kita seringkali menggunakan asumsi kita sendiri untuk memaknai keadaaan, bukan asumsinya Allah Swt. Sedangkan saat mengalami takdir yang baik, manusia lebih banyak sombong atau merasa bahwa apa yang dicapainya hari ini adalah berkat jerih payahnya selama ini, berkat kehebatannya sendiri.

Sekarang mari kita coba maknai kalimat itu dengan berbagi kisah.

Ada seorang suami yang diberikan hasil panen melimpah, tapi dalam prosesnya dia lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba. Shalat telat hingga tak sempat. Lalai dalam menuntut ilmu, lalai dari kewajiban mendidik anak dan istri. Tetapi Allah Swt. melimpahkan hasil panennya. Apakah yang demikian bisa dikatakan bahwa Allah Swt. rida? Sedangkan semakin hari ia semakin luput dari nikmat Allah Swt.

Ada pula kisah seorang perempuan yang sulit sekali menegakkan syari'at di tempat ia bekerja. Sulit rasanya untuk mengenakan jilbab (gamis), sulit menghindari untuk tidak berbaur dengan laki-laki. Hingga ia semakin terbiasa dan semakin nyaman dengan habits yang tidak apa-apa (tidak apa-apa tidak memakai gamis asal longgar, tidak apa-apa berbaur dengan non-mahram). Padahal berpakaian dengan menutup aurat sesuai standar aturan Islam adalah sebuah kewajiban bagi perempuan. Pakaian longgar bukan satu alasan yang membuat memakai jilbab (gamis) menjadi boleh ditinggalkan. Tidak ada alasan lain bagi perempuan untuk menggunakan jilbab dan khimar kecuali itu adalah perintah Allah Swt.

Maka keridaan Allah Swt. itu bukan pada gampang atau tidaknya rizki itu diraih, bukan pada susah atau mudahnya cita-cita digapai, bukan pada melimpahnya rizki. Namun pada "sudahkah bisa kutegakkan hukum-hukum Allah Swt.?" atau "Sudah lebih dekatkah aku kepada Allah Swt. di posisiku hari ini?" Dan kriteria inipun berlaku pada aktivitas apapun.

Amazing Muslim Realize

Tidak ada komentar:

Posting Komentar