Hari ini kita harus sadar bahwa kita sedang hidup di zaman yang serba uang, serba mahal, serba hedonis, serba-serba kenikmatan dunia yang bikin ngiler. Kapitalisme sukses menumbuhkan bibit-bibit iri hati pada diri manusia, kapitalisme pun sukses membuat kita kadangkala susah bersyukur. Gimana enggak coba? Sistem ini menciptakan suasana, which is, setiap harinya memaksa seseorang untuk terpapar oleh kehidupan mewah orang-orang seantero dunia. Scrolling gadget semakin cepat dan gampang diakses tanpa batas.
Dari latar belakang kehidupan yang seperti inilah muncul berbagai masalah kehidupan, salah satunya adalah merajalelanya transaksi hutang-piutang dengan tambahan manfaat. Atau yang sering kita maknai istilahnya dengan sebutan riba.
Bukan Islam namanya jika aktivitas semacam ini tak ada kaidahnya dalam Islam. Aturan Islam mencakup hukum yang mengatur diri sendiri, bagaimana bermuamalah dengan orang lain hingga bagaimana mengatur sumber daya berskala negara. Dalam konteks hutang-piutang pun Allah SWT menjelaskannya didalam Alquran bahwa riba tidaklah sama dengan jual beli.
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. al Baqarah : 275)
Kemudian di ayat selanjutnya Allah SWT menyeru dengan berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman." (QS. al Baqarah : 278)
Kemudian di ayat selanjutnya lagi Allah SWT menegaskan kembali.
"Jika kamu tidak melaksanakannya maka umumkanlah perang dari Allah SWT dan rasul-Nya..." (QS. al Baqarah : 279)
Oke, coba kita ulang kembali ayat tentang riba diatas, bahwa Allah SWT dengan jelas membedakan mana yang riba dan mana yang bukan, halal dan haram itu jelas banget kok guys. Disisi Allah SWT hitam dan putih itu sangat jelas. Dan jelas pula dampaknya.
Riba itu banyak rupanya. Kasus riba yang paling ringan adalah ketika seorang anak menzinai ibunya sendiri. Dampak dari aktivitas riba begitu nyata dan mengerikan. Karena satu-satunya aktivitas haram yang Allah SWT balas langsung (alias seketika itu juga) di dunia adalah aktivitas peribawian.
Harta riba bersifat panas gitu lo guys. Sama sekali tidak ada keberkahan bagi penerimanya, pelakunya maupun juru catatnya.
"Rasulullah SAW melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba." Kata beliau, "Semuanya sama dalam dosa." (HR. Muslim, no. 1598)
Simak lagi ayat tentang ancaman buat para pelaku riba bahwa jikalau kamu tidak hendak menghentikan transaksi riba, umumkan bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya mengajak kamu perang. Siapa sih guys yang berani melawan Allah SWT? Maka dari itu tidak bisa dipungkiri jika dalam rumah tangga seringkali terjadi perkelahian yang berujung perceraian, anak yang susah sekali diatur, mungkin saja ada secuil perbuatan kita yang mendatangkan murkanya Allah SWT dalam bentuk riba.
Banyak faktor yang menjadikan seseorang tercemplung kedalam aktivitas riba. Bisa juga karena tidak tahu. Inget ya bahwa riba itu bukan cuma ada pada aktivitas bank aja tapi juga yang lain, bisa jadi. Sesimple kamu makan, masih ngutang, dibayarin temenmu dulu, eh kok kamu pas makan bareng kamu nyimit makanan temen kamu itu.
Nah, disinilah pentingnya ilmu agama guys bagi seorang muslim. Kan Allah SWT bilang tuh di ayat sebelumnya, "Bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan riba..." Sedangkan takwa itu gak bisa dicapai jika bukan dengan ilmu/pengetahuan.
Hukum syariat Islam tidak bisa diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian dengan alasan suka atau tidak suka. Jika kita masih beranggapan seperti itu berarti kita belum benar-benar tunduk sebagai hamba dan masih mendahulukan perasaan. Contohnya guys jika kita masih beranggapan seperti ini, "ah kayaknya kalau sistem sewa tanah itu boleh deh dalam Islam. Kan itu gak kayak sistem gadai yang dzalim sama pemiliknya. Kayaknya kalau kerja di instansi ini gak apa-apa deh kan aku cuma pegawainya bukan pelakunya." Dan kayaknya-kayaknya yang semisalnya.
Rasulullah SAW menegaskan tentang azab bagi para pelaku riba dan hadits ini memperkokoh perkataan Allah SWT bahwa siapapun yang melakukan aktivitas ribawi maka ia sedang mengajak Allah SWT berperang.
"Jika zina dan riba sudah menyebar disuatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah SWT atas mereka sendiri." (HR. al Hakim, al Baihaqi, at Thabari)
Ketika yang ngajak perang itu udah Allah SWT dan Rasul-Nya, siapa sih yang mampu menang? So that, ketika zina dan riba telah tampak (menyebar) disuatu kampung/masyarakat/negara, itu tandanya manusianya sendiri sudah rela kalau azab Allah SWT datang menimpa kampung/masyarakat/negara itu.
Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan "suatu kampung" atau "di tengah penduduk kampung", bisa juga diartikan sebagai "di tengah masyarakat" atau bisa juga "negara" pada kapasitas yang lebih besar. That's the point, dampak atau sebutlah azab Allah SWT bagi pelaku zina dan riba ini gak sekedar pada tataran individu/pelakunya saja, tapi menyeluruh. Itu artinya bagi penduduk negerinya.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua aktivitas ini mau gak mau berdampak pada seluruh aspek masyarakat, khususnya di sektor ekonomi. Seperti ketimpangan sosial yang akan semakin terlihat, si kaya akan terus memperkaya diri, dan si miskin akan tetap miskin. Karena adanya gap jumlah uang yang beredar di masing-masing orang. Dan kerusakan inilah yang kita maknai sebagai azab Allah SWT. Wallahu'alam.
Untuk kasus diatas, kita bisa memahami apa dan bagaimana korelasinya dengan perkataan "penduduk kampung/masyarakat/negeri menghalalkan azab Allah?" Jika lama-kelamaan aktivitas seperti ini dibiarkan, kasusnya semakin marak, perzinaannya semakin berjamaah, tidak hanya satu dua orang yang akhirnya akan tertimpa kerusakan.
Jadi gak ada tuh kalimat, "yang penting aku gak melakukan zina atau riba." Kedua dalil diatas sudah membutktikan bahwa kita pun akan dimintai pertanggung jawaban atas kerusakan tersebut. Meski tidak melakukan. Kenapa? Karena mendiamkan sama saja mendukung secara pasif. Padahal Allah SWT selalu bilang beruntunglah orang-orang yang hidupnya saling tolong menolong dalam kebaikan, nasihat-menasihati dalam kebajikan. Dan disinilah letak pentingnya ama ma'ruf nahi mungkar. Islam itu bukan agama yang menyuruh kita untuk menjadi pribadi yang abai dengan lingkungan, seperti individualis dalam sistem kapitalis, islam mengajari kita untuk care dan emphaty sama orang lain. Sebab muslim itu satu tubuh, jika satu bagian sakit/rusak maka bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit juga. Perbaikan kerusakan yang ada pada manusia tak lain adalah dengan cara dakwah, itulah tanda cinta kita pada sesama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar