Standar pencapaian manusia satu dengan yang lainnya pasti berbeda,
ya kan? Disisi lain, standar pencapaian seseorang tentu saja akan dipengaruhi
oleh banyak faktor, tak terkecuali dipengaruhi oleh bagaimana cara dia
memandang kehidupan, bagaimana cara dia memandang alam semesta dan bagaimana
cara dia memandang manusia itu sendiri.
Jadi ya, kalau kita mau mengindera dan berpikir lebih dalam lagi.
Pencapaian seseorang, baik itu laki-laki maupun perempuan, semuanya dititik
beratkan pada bagaimana cara pandangnya. Secara bahasa ini disebut dengan
"IDEOLOGI".
Cara berpikir seperti apa inilah akan terurai berbagai macam keinginan ataupun pencapaian
sekaligus solusi dari pencapaian tersebut. In familiar term, it is called point of view. Setelah kemarin kita
bahas dikit tentang point of view. Ada baiknya sekarang kita
kenalan dulu sama ideologi-ideologi yang tumbuh di dunia saat ini. Biar kita
bisa ukur nih, selama ini kita menjalankan kehidupan ini pakai cara pandang
(ideologi) seperti apa. Jangan karena kita salah ambil ideologi, kita jadi
gampang stress dan kebanyakan nuntut healing.
Mengenal
Ideologi di Dunia
Sumber foto : stocksnap.io
Di dunia ini cuma ada tiga macam orang, guys. Jadi manusia itu
sebetulnya dikelompokkan atas tiga pemahaman ini.
Pertama, orang-orang yang berprinsip layaknya
rantai makanan. Mereka yang berprinsip pada pemahaman ini biasanya susah untuk
menerima keberadaan Tuhan. Karena mereka menganggapnya segala sesuatu itu
terbentuk dari materi satu ke materi yang lain, dari satu wujud ke wujud yang
lain. Bagi mereka kesemuanya itu cuma berpindah wujud, bukan berasal dari
proses penciptaan. Mirip kan kayak konsep rantai makanan?
 |
| Foto : Postingan Seorang Influencer |
Pada postingan seseorang diatas jikalau kita gak hati-hati
dalam memahami pemikiran ini, bisa aja kita kebawa arus. Jadilah proses
hidupnya, pencapaiannya akan muter kayak lingkaran setan. Bangun
tidur mikirin cuan buat besok bisa happy-happy, ngabisin waktu buat cuan, balik lagi ngabisin cuan buat
beli waktu (ini terlepas pembahasan apakah waktu bisa dibeli ya). Nah, kayak
gitu guys. Kebayang kan betapa stressnya kehidupan materialisme. Kayak hidup sekedar kungkungan waktu dan
uang.
Kedua, orang-orang yang berprinsip dengan mengambil
jalan tengah. Yaitu mereka yang masih mau percaya sama Tuhan tapi enggan untuk
menerapkan hukum-hukum dari Tuhannya. Jadi dalam kesehariannya mereka gak pakai
peraturan Tuhan tapi peraturan yang muncul dari kehendak dia sendiri. Nah,
kalau aturan yang dipakai udah dari "kehendak sendiri", itulah sebuah
aturan yang ditunggangi dengan hawa nafsu dan kepentingan.
Cara pandang yang seperti
ini juga ngeri banget, guys. Karena penghambaannya kepada Tuhan
bisa belok sesuai dengan kebermanfaatan, sesuai keinginan dan sesuai
kepentingan juga. Penghambaan kepada Tuhan
itu kan bukan hanya diranah ibadah aja guys. Tapi dalam segala segi,
baik dalam cari rezeki, dalam target pencapaian kita, dalam bergaul, dalam
berpakaian, dll. Tapi kalau penghambaannya
udah berbelok ke yang lain. Maka segala aktivitasnya akan berubah jadi atas
dasar kepentingan, manfaat semata. Yaaa, sama lah kayak semboyan kita hari
ini. Times is money. Bisa kita bayangin kan, kalau semboyannya aja
udah kayak gini, maka semua aktivitas yang kita lakukan akan mengarah kemana?
termasuk dalam mengukur tingkat pencapaian kita sendiri.
Jadilah kita bisa
mengindera bahwa hari ini kita berada pada era dimana semua dikomersialkan,
alias segala lini udah menggunakan cara pandang kapitalisme.
Sedihnya lagi, generasi abad ke-19 sampai sekarang sudah dicekoki sama
pemikiran yang model begini, sejak dia lahir, kamu ya termasuk aku juga.
Kalau udah kayak gini
nih, parahnya lagi hubungan antar manusia bukan lagi dianggap sebagai
humanities, tapi dianggapnya udah kayak kehidupan pasar sebab yang ada cuma
konsumen sama produsen. Masyarakatnya udah
dianggap mangsa pasar. Tidak menutup kemungkinan juga manusia hanya dianggap
sebagai mangsa politik untuk menempati kursi-kursi perpolitikan. Ilmu udah bukan sesuatu
yang digunakan sebagai alat untuk mengarungi kehidupan dengan benar. Karena
akan banyak Universitas yang bersemboyan "kuliah kerja nyata",
jadilah kuliah itu bukan lagi nyari ilmu untuk kehidupan tapi untuk kerja. Impact dari
kerja kalau bukan uang apa guys?
Jadi memang ya cara
pandang kapitalis ini menjadikan sumber kebahagiaan adalah uang. Yaaa wajar
saja jika kemudian banyak orang yang berlomba-lomba untuk memperkaya diri,
karena otaknya sedari lahir sudah mengindera fakta bahwa yang menjadikan sumber
kebahagiaan adalah uang.
Standar Pencapaian
Sumber foto : Pixabay
Sebelumnya sudah kita bahas tentang tiga
macam landasan berpikir atau yang disebut sebagai point of view.
Sampai sini, sudahkah kita paham tentang diri kita sendiri? Landasan berpikir
yang mana yang selama ini kita pakai? Penting sekali untuk memikirkannya.
Karena jangan-jangan kebingunganmu tentang pencapaianmu sendiri adalah akibat
dari kesalahan menggunakan point of view.
Kunci utamanya adalah mengubah cara
pandang diri sendiri terlebih dahulu. Agar ketika target pencapaian yang
disusun berbeda dari yang lain, tidak jadi insecure, tidak jua
merasa kurang yang mengakibatkan kurang bersyukur, tidak pula kebingungan, dll.
Ketika hari ini, semua perempuan
dihadapkan pada cara pandang yang kapitalistik, namun jangan pernah sekali-kali
meletakkan standar dan parameter kehidupanmu menjadi sama dengan mereka. Saat
kamu menimbang target pencapaianmu dengan standar kapitalisme, maka dirimu tak
akan menemukan bagaimana Islam bekerja untuk memuliakan kedudukanmu, wahai kaum
hawa. Saat kamu mengukur target pencapaianmu
dengan standar kapitalisme, maka dirimu hanya akan menggerutu sebab nasibmu tak
semujur mereka.
Kuncinya jangan gunakan standar-standar
kapitalis. Ini adalah pesan sekaligus tips pertama
yang harus kamu gunakan dalam menimbang target pencapaianmu sendiri. Karena
sejatinya pemikiran yang datang bukan dari Islam, ia tak akan menentramkan
hati, tak sesuai dengan fitrah dan tak memuaskan akal.
Pakailah hukum yang lima, yaitu wajib,
sunah, mubah, makruh dan haram. Hukum yang lima ini cukup kok membuat
kamu bisa memprioritaskan aktivitas bahkan target-target pencapaianmu sendiri.
Hukum yang lima ini juga menjadi standar bagi segala aktivitas yang akan kamu
targetkan. Sebagai muslim kita tentu paham bahwa
Islam gak cuma ngurusin ibadah doang. Maka hukum yang lima inilah yang bisa
kamu jadikan standar kamu punya pencapaian. Contoh simple-nya,
lebih wajib mana menggunakan jilbab dulu dengan jilbabin hatinya dulu? Contoh lainnya, boleh bagi perempuan
bekerja diluar rumah atas izin suami, tidak campur baur, berjilbab, tidak
tabarruj serta tidak mengesampingkan perannya sebagai madrasatul ula.
Jangan bebankan dirimu dengan sesuatu
yang bukan menjadi peranmu sebagai perempuan. Sebab itu melawan fitrah.
Sedangkan sesuatu yang melawan fitrah rasanya gak nyaman, bikin stress. Jadilah perempuan yang idealis
dengan menjadikan Islam sebagai landasanmu berpikir. Jadilah perempuan yang idealis dengan
menjadikan Islam sebagai landasanmu berpikir.
Jadikan Islam Sebagai Point Of View
Sumber foto : Pixabay
Allah Swt menciptakan makhluk berjenis
perempuan bukan tanpa maksud. Bukan pula sekedar pelengkap jenis makhluk yang
Allah Swt ciptakan. Apalagi sekedar pelengkap hidup kaum adam. Big
no!
Allah Swt itu menciptakan perempuan
dengan segala potensi yang dia miliki untuk sebuah amanah besar. Perempuan secara fisik, akal maupun
mental tak akan bisa dipaksakan untuk setara dengan kaum adam. Ia memiliki
amanah berbeda yang menjadi kekhususannya sebagai perempuan.
Maka dari itu, dalam menentukan standar
pencapaian tak dapat pula melawan fitrahnya sebagai perempuan. Jika ini terjadi
maka akan menimbulkan ketidaknyamanan tersebab ia meninggalkan sesuatu yang
telah menjadi tanggung jawabnya.
Fungsi utama perempuan adalah menjadi
seorang ibu terlepas apakah ia bisa mengandung atapun mandul. Dengan demikian,
Allah Swt. menciptakan perempuan dengan seperangkat sifat/karakter untuk
keberlangsungannya sebagai seorang ibu, seperti menyusui, multitasking,
fungsi retina yang menyebar, detail, lembut, baperan, dll. Dari rahim perempuan kita menyadari bahwa
ada regenerasi sebuah peradaban manusia disana. Dan ini tak dapat dielakkan.
Bayangkan, kita adalah pusat regenerasi. Regenerasi kaum muslim yang berfungsi
sebagai pengurus bumi (khalifatu fil ardhi).
Luar biasa bukan? Allah Swt. menciptakan
makhluk bernama perempuan itu dengan sangat istimewa. Sampai sini sudahkah kita
paham, kita begitu istimewa. So, kenapa pula harus menyetarakan/disetarakan
dengan kaum adam?
Dari fungsi utama ini kita bisa urai
secara detil apa aja nih standar pencapaian perempuan. Yang jelas ia harus
mendukung poin pertama. Fungsi utama yang sudah dijelaskan sebelumnya kita
anggap sebagai fitrah, maka segala aktivitas yang menentangnya akan menimbulkan
kerusakan.
Islam tak mengenal konsep kesetaraan
gender. Islam mengatur urusan perempuan dengan menitikberatkan pada
keunikannya. Kalaupun dalam Islam thalabul ilmi diwajibkan
atas laki-laki dan perempuan, hal ini pun tidak lantas bisa dikatakan bahwa
Islam mendukung kesetaraan gender. Karena fungsi dasar thalabul ilmi dalam
Islam adalah agar manusia tahu bagaimana mencapai keridaan Allah Swt.
Islam mengatur urusan perempuan dengan
sangat unik. Islam pun hanya mewajibkan sesuatu yang mampu perempuan amalkan.
Peraturan-peraturan dalam Islam tidak merusak fitrahnya sebagai perempuan.
Justru menjadikannya mulia dan lebih berharga daripada perhiasaan dunia. Mulianya perempuan dalam Islam bisa
dilihat dari berbagai hal, seperti aturan berpakaian, perwalian, hingga hukum
waris.
Islam menganggap bahwa perempuan juga
berkewajiban diikutsertakan dalam menyebarkan pemahaman Islam. Meski bukan pada
ranah jihad secara fisik, tetapi dengan akal dan kemampuan lain yang dia miliki
bisa membuatnya menjadi perempuan yang militan.
Dari sini jelas bahwa Allah Swt.
memberikan tugas perempuan sebagai manusia (khalifatu fil ardh) disamakan
kewajibannya dengan laki-laki, yaitu ikut serta dalam menyebarkan ajaran Islam,
tentunya dengan kapasitasnya dia sebagai seorang perempuan. Nah, untuk memenuhi syarat sebagai penyeru
kebaikan. Karena menyeru kebaikan (amar ma'ruf nahi mungkar) adalah sebuah
kewajiban maka Islam pun mewajibkan perempuan untuk berthalabul ilmi.
Thalabul ilmi dalam hal apa? Dalam hal guna mendukung aktivitasnya
dalam menyerukan kebajikan (amar ma'ruf nahi mungkar). Bukan untuk
menjadikannya sederajat dalam hal karir dan jabatan.
Islam mendudukkan posisi perempuan
sesuai dengan fitrahnya, sesuai dengan karakternya. Tidak menyelisihi keduanya. Maka dari itu, ketika Islam digunakan
sebagai point of view, sebagai perempuan ketika dilanda stres,
kebimbangan, galau tak berkesudahan, baper belum nikah-nikah. Dia seharusnya
gampang pulih, sebab ia tahu persis apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Dia
tahu persis bagaimana seharusnya dia memposisikan dirinya agar kehormatannya
tetap terjaga.