Kehamilan merupakan fitrah seorang perempuan.
Rahim yang terpasang pada tubuh perempuan secara otomatis menandakan bahwa
dirinya memang pusat regenerasi bagi peradaban manusia. Karunia berupa rahim
inilah yang membedakan perempuan dan laki-laki. Betapa Allah Swt memuliakan
manusia berjenis perempuan, lewat jalan kelahiran.
Meskipun begitu, ada sebagian perempuan yang
menganggap bahwa hamil dan melahirkan merupakan sebuah beban. Rasa mual, tubuh
lemas dan gampang lelah saat trimester pertama, suasana hati yang fluktuatif,
belum lagi frekuensi berkemih yang meningkat, kemudian harus merasakan puncaknya
rasa sakit pada kontraksi ketika hendak melahirkan. Kekhawatiran dan
bayang-bayang saat akan merasakan lahiran normal pun menjadikan mindset
horror pada sebagian perempuan. Walhasil tidak sedikit perempuan yang
akhirnya memutuskan untuk memilih jalan lahir sesar. Bahkan adapula pemikiran
yang lebih ekstrim yaitu memilih untuk tidak memiliki anak (chilfdree).
Melahirkan adalah proses alamiah tubuh bagi
perempuan. Ketika proses melahirkan sedang terjadi, otak primitif manusia
teraktivasi. Sehingga bisa dikatakan bahwa proses melahirkan adalah proses yang
intuitif. Proses itu tidak bisa dikontrol oleh ibu secara sadar maka yang
dibutuhkan saat mengejan adalah koneksi antara ibu dan bayi.
Bisa dibayangkan jika proses persalinan tidak
diatur seperti ini oleh sang pencipta. Kita mungkin tidak bisa membayangkan
pula bagaimana kondisi Isa bin Maryam yang dilahirkan tanpa bantuan teknologi
seperti saat ini. Maka semestinya teknologi operasi sesar yang ada sekarang
bukan digunakan sebagai pengganti proses persalinan. Namun ia hanyalah alat
yang dipakai untuk membantu persalinan dengan syarat sang ibu dan bayi dalam
kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
WHO telah merekomendasikan kepada banyak
perempuan di dunia agar memilih proses persalinan secara fisiologis (lahiran
normal). Idealnya angka lahir sesar hanya 5-15 persen. Namun faktanya, di 15
negara ada lebih dari 40 persen bayi lahir menggunakan metode operasi sesar.
Penelitian menemukan 60 persen negara menggunakan metode sesar secara
berlebihan, sedangkan sebanyak 25 persen tidak bisa melakukannya sesuai
kebutuhan. Dari tahun 2000 hingga 2015, tercatat sebanyak 12 persen dari total
kelahiran secara sesar menjadi 21 persen. Diperkirakan oleh para ahli bahwa
hanya sekitar 10-15 persen kelahiran secara medis karena komplikasi seperti
pendarahan, hipertensi atau posisi bayi yang tidak normal, (CNNIndonesia,
17/10/2018). Dapat disimpulkan bahwa tingkat kelahiran lewat bedah sesar
menjadi trend dan terus meningkat.
Kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi
membuat manusia menjadi memilih jalan yang lebih gampang dan instan. Kondisi ini
semakin haripun semakin menggerus kesabaran pada diri perempuan. Pemahaman
tentang fitrah perempuan menjadi luntur karenanya. Padahal andai kita mau
memaknai bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu keniscayaan bagi
perempuan, maka kitapun semestinya meyakini bahwa secara teknisnya Allah Swt
telah menyiapkan tubuh perempuan untuk bisa melewati persalinan fisiologis (normal).
Sejatinya kehamilan dan persalinan merupakan bentuk
takwa kepada Allah Swt. Jika seseorang sudah mengakui bahwa ia bertakwa maka
apapun yang terjadi ia akan memaknainya sebagai ketaatan kepada Allah Swt. Niat
harus diluruskan agar stay on the track. Susah payah saat hamil dan
sakitnya melahirkan adalah sunatullah. Maka ketika kita menghilangkannya bisa
jadi kita akan mendapatkan kemudharatan atau melanggar sunatullah. Jika kita
memaknai susahnya hamil sebagai ujian maka sikap kita adalah bersabar, jika
kita menganggap rasa sakit akibat melahirkan adalah nikmat maka bersyukurlah.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah Swt menciptakan istrinya; dan dari kedua Allah Swt mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…” (TQS. An-Nisa ayat 1)
Melahirkan seorang insan ke dunia adalah sebuah
kemuliaan bagi perempuan. Bahkan kemuliaan ini setara dengan visi misi
penciptaan manusia sebagai penjaga bumi. Tidakkah sebagai seorang yang mengaku
beriman kepada Allah Swt, menginginkan untuk bisa meraih kemuliaan itu?
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laku-laki maupun perempuan, [karena] sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (TQS. Ali Imran ayat 195)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar