Alquran menjelaskan tentang bagaimana kesudahan atau akhir urusan makhluk Allah Swt. yang memiliki sikap sombong dan enggan menarik diri kepada kebenaran. Allah Swt. menceritakan bagaimana kisah iblis yang Allah Swt. usir dari surga sebab iblis memiliki sikap sombong dan merasa bahwa diri lebih baik dan lebih mulia daripada Adam as.
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ
فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
Penyakit yang ada pada orang tidak
beriman hanya ada dua, jika dia tidak أَبَىٰ maka dia pasti ٱسۡتَكۡبَرَ.
أَبَىٰ diartikan sebagai sikap tidak peduli, bodo amat, enggan, tidak
mau. Sedangkan ٱسۡتَكۡبَرَ menurut Rasulullah Saw. adalah sikap sombong, dia menolak kebenaran
dan meremehkan manusia. Inilah kedua sikap yang ditunjukkan oleh iblis ketika
diperintahkan oleh Allah Swt. bersujud kepada Adam. Penyakit ini bisa saja
muncul pada manusia yang cerdas sekalipun.
Kisah yang terjadi pada Abu Thalib hendaklah menjadi hikmah bagi orang-orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah Swt. Dia adalah paman Rasulullah Saw., kerabat yang rela mendukung agama yang dibawa oleh Muhammad Saw., dia juga bagian dari pemimpin Quraisy, cerdas dan terhormat. Namun, ketika paman Rasulullah Saw., Abu Thalib, hendak meninggal dunia ayat yang turun adalah QS. at Taubah [9]: 113. “Tidak pantas bagi nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang yang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahannam.”
Ayat ini menepis bahwa
secerdas apapun akal yang dimiliki seseorang, setinggi apapun derajat dan
pangkatnya dihadapan manusia, jika dia enggan untuk menerima kebenaran maka ia
digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang yang musyrik. Allah Swt. menjelaskan
bahwa tidaklah pantas memohonkan ampun kepada orang yang mereka tidaklah
mempercayai Allah Swt.
Dalam
sebuah kitab dijelaskan tentang bagaimana jawaban Abu Thalib ketika diajak
beriman oleh Rasulullah di ujung nafasnya, Abu Thalib berkata, “Kalau saya
tidak takut celaan orang-orang yang mencela sudah pasti Anda semua menemukan
saya dalam agamanya Muhammad.”
Jawaban yang keluar dari mulut Abu Thalib
menandakan bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang cerdas dan berpikir.
Dia membenarkan agama yang dibawa oleh keponakannya, Muhammad, adalah sebuah
kebenaran. Namun ternyata dia tetap bersikukuh tidak mau beriman sebab dia
takut di-bully oleh para pengikut dan pemuka Quraisy lainnya. Dia tidak
beriman sebab enggan, takut akan pandangan orang lain terhadap dirinya. Dia
takut tidak mendapatkan tempat diantara orang-orang Quraisy.
Banyak orang cerdas yang dibohongi oleh
akalnya sendiri. Dia merasa ٱسۡتَكۡبَرَ.
Dia merasa dia lebih tahu daripada Allah. Seringkali orang semacam ini
mendewakan akal yang dimiliki. Akal digunakannya bukan untuk menjadi tunduk
dihadapan Allah malah menjadikan ia semakin sombong dihadapan Allah. Akalnya
malah digunakan untuk menyepelekan Allah.
Dia beranggapan bahwa manusia tidaklah butuh Allah sebab segala bentuk materi yang ada didunia ini bisa ia ciptakan sesuai kemampuan akalnya. Seperti hujan yang mereka anggap bisa mereka buat, merekapun menganggap kecerdasan manusia telah mencapai kecerdasan Artificial Intelegent yang luar biasa cerdas melebihi kecerdasan manusia itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan istikbar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar