Tidak setiap orang tua menjadi walidun dan walidatun, mereka hanya sekedar menjadi ibu dan bapak bagi anak. Mereka memberikan sandang, pangan dan papan yang selayaknya kepada anaknya. Tetapi tidak pernah memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya tentang iman, tentang sunnah Rasulullah Saw., dan anaknya tidak pernah mengerti tentang agama yang menunjukkan jalan keselamatan baginya untuk dunia dan akhirat.
Jika ada diantara manusia yang mereka hanya
melaksanakan kewajiban, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan
tapi mereka menafikkan tiga kewajiban utama sebagai orang tua, yaitu
mengenalkan anak kepada Allah Swt, Rasul Saw., dan agama yang harus mereka
yakini dan imani. Maka sesungguhnya orang tua yang seperti ini hanya menjadi
abi dan ummu, ibu dan bapak, papa dan mama, ayah dan bunda, namun tidaklah
menjadi walidun dan walidatun.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah mungkin
kita mendapat pahala atas kewajiban yang telah kita tunaikan berupa sandang,
pangan dan papan. Tetapi kita tidak mendapatkan prioritas doanya anak ketika
anak itu berdoa dengan harapan kepada Allah, “Rabbighfirli waliwaalidayya
warhamhuma kamaa rabbayani shogiroh”.
Rasulullah Saw. mengajarkan kita doa ini untuk
di ucapkan dari anak yang mempunyai walidun dan walidatun bukan sekedar anak
yang memiliki abah dan ummi. Atau dengan kata lain ampuni kedua orang tua ku
yang walidun dan walidatun dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi
aku dan mendidik aku selama aku kecil. Dan yang disebutkan dalam doa tersebut
bukanlah abah dan ummi melainkan walidun dan walidatun.
Gambaran ini sebagai refleksi kepada setiap
orang tua. Jangankan apa yang kita tuai hari ini, apa yang kita petik hari ini
dari kehidupan anak kita, ketika berinteraksi dan berhadapan dengan kita, itu
karena kita sepanjang hidup anak sampai anak itu besar hingga hari ini kita
hanya sekedar menjadi abi dan ummi tidak menjadi walidun dan walidatun.
Ketika kita tidak menjadi walidun dan walidatun
bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang dihormati oleh anak? Sedangkan mereka
tidak mengenal Allah Swt., tidak mengenal Rasul Saw., yang itu merupakan jalan
keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
Ada banyak sebagian orang tua yang pandai
menuntut. Namun mereka tidak berusaha menjadi walid dan walidah, mereka tidak
pernah serius mengenalkan Allah Swt. kepada anaknya, tidak pernah serius
mengenalkan surga dan nereka, tidak pernah serius menyampaikan tentang
kematian. Yang ada adalah anak-anaknya seolah-olah disuruh sendiri belajar
tentang Allah Swt., disuruh belajar sendiri tentang hari akhir, disuruh belajar
sendiri tentang mempersiapkan kematian. Lalu orang tuanya tidak pernah hadir
untuk mendidik semua perkara itu. Apa yang bisa diharapkan untuk murid yang tak
pernah diberi ilmu? Lalu orang tua mengharapkan anak-anak otomatis menjadi
manusia yang sholih dan berilmu, apakah demikian?
Kajian tentang birulwalidain anak kepada
orang tua seperti mata rantai yang tidak terputus dari bagaimana orang tua juga
bisa mempersiapkan anak untuk mudah dalam berbakti kepada orang tua. Maka
seperti pepatah apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Tidak hanya anak
yang bisa durhaka kepada orang tua, namun bisa jadi memang orang tua sudah
durhaka kepada anak dengan tidak mempersiapkan mereka untuk birrulwalidain
kepada orang tua, dengan cara mengenalkan Allah Swt.. Tentunya ini menjadi
cerminan bagi para orang tua.
Kisah dari Umar bin Khattab ra., telah dijumpai
kisah seorang anak diseret oleh orang tuanya dihadapkan kepada Umar bin Khattab
ra., ketika orang tuanya marah besar karena anak tersebut durhaka tetapi
setelah diteliti ternyata orang tuanya telah durhaka kepada anaknya sebelum
anak itu durhaka kepada oran tuanya. Ayahnya tidak memberikan nama yang baik
untuk anaknya, tidak memberikan ibu yang beriman karena ibunya adalah seorang
majusi yang menyembah kepada api, dan
seumur hidupnya ia tidak pernah mengajarkan satu hurufpun yang ada dalam
Alquran kepada anaknya. Maka ucapan dari Umar bin Khattab ra. menjadi memori
yang tak pernah terlupakan sepanjang sejarah. Khalifah Umar pun marah dan
mengatakan, “kamu telah durhaka kepada anakmu sebelum anak ini durhaka
kepada dirimu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar