MEMUDAHKAN ANAK UNTUK BERBAKTI | Abu Bassam Oemar Mita



Tidak setiap orang tua menjadi walidun dan walidatun, mereka hanya sekedar menjadi ibu dan bapak bagi anak. Mereka memberikan sandang, pangan dan papan yang selayaknya kepada anaknya. Tetapi tidak pernah memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya tentang iman, tentang sunnah Rasulullah Saw., dan anaknya tidak pernah mengerti tentang agama yang menunjukkan jalan keselamatan baginya untuk dunia dan akhirat.

Jika ada diantara manusia yang mereka hanya melaksanakan kewajiban, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan tapi mereka menafikkan tiga kewajiban utama sebagai orang tua, yaitu mengenalkan anak kepada Allah Swt, Rasul Saw., dan agama yang harus mereka yakini dan imani. Maka sesungguhnya orang tua yang seperti ini hanya menjadi abi dan ummu, ibu dan bapak, papa dan mama, ayah dan bunda, namun tidaklah menjadi walidun dan walidatun.

Konsekuensi dari kondisi ini adalah mungkin kita mendapat pahala atas kewajiban yang telah kita tunaikan berupa sandang, pangan dan papan. Tetapi kita tidak mendapatkan prioritas doanya anak ketika anak itu berdoa dengan harapan kepada Allah, “Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayani shogiroh”.

Rasulullah Saw. mengajarkan kita doa ini untuk di ucapkan dari anak yang mempunyai walidun dan walidatun bukan sekedar anak yang memiliki abah dan ummi. Atau dengan kata lain ampuni kedua orang tua ku yang walidun dan walidatun dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku dan mendidik aku selama aku kecil. Dan yang disebutkan dalam doa tersebut bukanlah abah dan ummi melainkan walidun dan walidatun.

Gambaran ini sebagai refleksi kepada setiap orang tua. Jangankan apa yang kita tuai hari ini, apa yang kita petik hari ini dari kehidupan anak kita, ketika berinteraksi dan berhadapan dengan kita, itu karena kita sepanjang hidup anak sampai anak itu besar hingga hari ini kita hanya sekedar menjadi abi dan ummi tidak menjadi walidun dan walidatun.

Ketika kita tidak menjadi walidun dan walidatun bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang dihormati oleh anak? Sedangkan mereka tidak mengenal Allah Swt., tidak mengenal Rasul Saw., yang itu merupakan jalan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Ada banyak sebagian orang tua yang pandai menuntut. Namun mereka tidak berusaha menjadi walid dan walidah, mereka tidak pernah serius mengenalkan Allah Swt. kepada anaknya, tidak pernah serius mengenalkan surga dan nereka, tidak pernah serius menyampaikan tentang kematian. Yang ada adalah anak-anaknya seolah-olah disuruh sendiri belajar tentang Allah Swt., disuruh belajar sendiri tentang hari akhir, disuruh belajar sendiri tentang mempersiapkan kematian. Lalu orang tuanya tidak pernah hadir untuk mendidik semua perkara itu. Apa yang bisa diharapkan untuk murid yang tak pernah diberi ilmu? Lalu orang tua mengharapkan anak-anak otomatis menjadi manusia yang sholih dan berilmu, apakah demikian?

Kajian tentang birulwalidain anak kepada orang tua seperti mata rantai yang tidak terputus dari bagaimana orang tua juga bisa mempersiapkan anak untuk mudah dalam berbakti kepada orang tua. Maka seperti pepatah apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Tidak hanya anak yang bisa durhaka kepada orang tua, namun bisa jadi memang orang tua sudah durhaka kepada anak dengan tidak mempersiapkan mereka untuk birrulwalidain kepada orang tua, dengan cara mengenalkan Allah Swt.. Tentunya ini menjadi cerminan bagi para orang tua.

Kisah dari Umar bin Khattab ra., telah dijumpai kisah seorang anak diseret oleh orang tuanya dihadapkan kepada Umar bin Khattab ra., ketika orang tuanya marah besar karena anak tersebut durhaka tetapi setelah diteliti ternyata orang tuanya telah durhaka kepada anaknya sebelum anak itu durhaka kepada oran tuanya. Ayahnya tidak memberikan nama yang baik untuk anaknya, tidak memberikan ibu yang beriman karena ibunya adalah seorang majusi yang menyembah kepada api,  dan seumur hidupnya ia tidak pernah mengajarkan satu hurufpun yang ada dalam Alquran kepada anaknya. Maka ucapan dari Umar bin Khattab ra. menjadi memori yang tak pernah terlupakan sepanjang sejarah. Khalifah Umar pun marah dan mengatakan, “kamu telah durhaka kepada anakmu sebelum anak ini durhaka kepada dirimu.

Amazing Muslim Realize

Tidak ada komentar:

Posting Komentar