Anak adalah
amanah terbesar dalam hidup. Amanah tersebut berupa pendidikan kepada anak
tentang penerapan prinsip-prinsip akidah. Hal ini mencakup pendidikan bagaimana
kelak ketika anak sudah menginjak usia baligh dia sudah paham konsep bertuhan
yang benar seperti apa. Begitupun idealnya dia sudah tuntas mengetahui
bagaimana melakukan amal perbuatan yang sesuai dengan aturan Tuhannya.
Pendidikan
akidah merupakan materi yang tidak bisa dikompromikan lagi. Akidah haruslah
bersumber dari kebenaran, sebab benar salahnya amal perbuatan seseorang akan
diukur berdasarkan standar akidah. Maka jika pendidikan akidah yang orang tua
ajarkan kepada anaknya adalah akidah yang salah, tidak menutup kemungkinan
perbuatan-perbuatan yang kemudian muncul dari benak anak adalah perbuatan yang
salah pula.
Allah Swt.
telah menceritakan kisah-kisah penting didalam Alquran. Salah satunya adalah
tentang bagaimana seorang Ayah bernama Luqman (semoga Allah Swt. merahmatinya)
berpesan kepada anaknya untuk tidak menyekutukanNya. "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah Swt.) adalah benar-benar kedzaliman yang besar." (QS. Lukman : 13)
Begitu juga
dengan Ya’qub as. yang berpesan kepada anaknya, “Apakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan
(tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kamu
sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan nenek
moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya
tunduk dan patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133)
Alquran pun
merekam wasiat Ibrahim as. kepada anaknya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu
kepada anak-anaknya, dekian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai, anak-anakku!
Sesungguhnya Allah Swt. telah memiliki agama ini bagimu, maka janganlah kamu
mati kecuali memegang agama islam.” (QS. Al Baqarah: 132)
Begitu pentingnya
penanaman akidah kepada anak hingga Allah Swt. menyimpan kisah-kisah tersebut
didalam Alquran. Kita bisa memaknai mengapa Allah Swt. hanya merekam wasiat
para bapak kepada anaknya. Dan bukan wasiat ibu dalam hal penanaman akidah. Pelajaran yang dapat diambil, seolah-olah Allah Swt.
ingin memberikan pelajaran kepada orang tua tentang siapa yang punya andil
besar dalam pendidikan akidah sang anak.
Bapak atau
ayah adalah qawwam bagi keluaga. Dia adalah pemimpin bagi keluarganya.
Maka dia punya kewenangan penuh atas pendidikan keluarganya. Sebagaimana
karakter seorang pemimpin, ia diharapkan memiliki karakter yang tegas dan
pasti.
Pemimpin
didalam keluarga memiliki tanggung jawab penuh terhadap kehidupan dan
keberlangsungan keluarganya saat ini dan nanti. Maka sudah semestinya seorang ayah tidak memisahkan urusan mencari nafkah dan kewajiban mendidik buah
hatinya.
Anak yang
dekat dengan ayahnya akan memiliki perbedaan karakter baik dari segi kognitif/intelektual
maupun jiwanya. Ayah memiliki pengaruh dalam mengisi tanki maskulinitas dan
egosentris. Anak-anak yang mendapatkan porsi besar pada dua hal ini akan
membantunya bertahan di dalam kondisi yang sulit dimasa depan.
Kekurangan
aspek maskulin dari ayah dapat mempengaruhi perkembangan psikologis anak,
terutama dalam hal pengambilan keputusan. Anak yang kurang mendapatkan aspek
maskulin dari ayah dapat mengalami ketidakpastian dan kebingungan dalam
mengambil keputusan.
Beberapa
aspek maskulin yang dapat dipengaruhi oleh figur ayah adalah:
- Penentuan tujuan hidup
Sebagai seorang yang beriman kepada Allah Swt., seorang muslim patutlah
menjadikan visi misi kehidupan yang tertuang dalam QS. Adz Dzariyat ayat 56
sebagai standar berkehidupan. Bahwa visi utama manusia adalah untuk beribadah
kepada Allah Swt. dan misi utamanya adalah menjadi khalifatu fil ardh.
Ayah memiliki porsi besar dalam hal ini. Visi misi kehidupan ini akan bekaitan dengan
akidah yang ditanamkan. Jika mengaku sebagai hamba Allah Swt., maka tujuan
hidup keluarga tersebut haruslah yang sesuai dengan visi misinya Allah Swt. Dan
pelajaran ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Maka memang hanya Ayah
yang akan mampu menegakkan pendidikan akidah kepada anak-anak dengan karakter
tegasnya. Agar terpatri dalam diri anak akidah yang benar dan senantiasa
menjadikan akidah islam sebagai tolak ukur dalam menyelesaikan masalahnya kelak
ketika ia sudah menginjak aqil baligh.
- Kemandirian dan kepercayaan diri
Maskulinitas dapat berkontribusi dalam pembentukan karakter anak
pada aspek kemandirian dan kepercayaan diri. Namun, perlu dicatat bahwa
maskulinitas tidak hanya terkait dengan gender laki-laki, tetapi juga dapat
dimiliki oleh individu perempuan. Karakteristik
maskulinitas seperti keberanian, ketegasan, dan otonomi dapat membantu anak
dalam mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri. Anak yang tumbuh dengan
orang tua yang memiliki karakteristik maskulinitas yang sehat mungkin memiliki
teladan yang baik dalam mengembangkan keberanian dan ketegasan dalam mengambil
keputusan dan bertindak, serta merasa lebih percaya diri dalam menghadapi
tantangan dan mengambil risiko yang sehat.
- Kemampuan menyelesaikan konflik
Mereka yang memiliki kedekatan dengan Ayah akan mendapatkan energi positif
berupa pemikiran yang lebih rasional. Dimana logika-logika berpikir yang selama
ini ia lihat dari sang Ayah, inilah yang nantinya akan membantu si anak untuk
dapat menyelesaikan konflik ketika ia dewasa, secara sehat.
- Kemampuan mengontrol emosi
Figur Ayah sebagai pemimpin/raja dalam keluarga harus selalu terjaga.
Inilah yang akan membawa anak untuk tahu batasan. Sikap taatnya ibu ke Ayah pun
akan menjadi gambaran seperti apa yang dimaksud dengan taat, tanpa harus
menumbuhkan luka pengasuhan. Sebab bisa jadi luka pengasuhan pula yang turut
berkontribusi pada lemahnya anak dalam mengontrol emosinya.
Ketika anak
tidak memiliki figur ayah yang memberikan contoh dan membantu dalam
pengembangan aspek-aspek maskulin tersebut, anak dapat menjadi plin-plan dan
kurang percaya diri dalam mengambil keputusan. Anak mungkin merasa tidak
memiliki arah hidup yang jelas dan kesulitan dalam menentukan tujuan hidup yang
ingin dicapai. Maka urgensi peran ayah dalam pengasuhan memiliki porsi yang harus seimbang dengan ibu.
Selain itu,
anak yang kekurangan aspek maskulin dari ayah juga mungkin mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan konflik dan mengontrol emosi. Anak mungkin menjadi kurang
disiplin dan tidak bertanggung jawab karena tidak memiliki figur ayah yang
memberikan pengarahan dan bimbingan.
Oleh karena
itu, penting bagi Ayah mengambil porsi yang seimbang dalam pengasuhan sehingga
anak akan tumbuh sehat, tidak hanya jasmani tapi juga anak yang sehat akalnya.
Kalaupun sang Ayah sudah tidak bisa membersamainya lagi, peran itu bisa
digantikan kepada lelaki yang paling dekat nasabnya dengan sang anak seperti
kakek ataupun paman. Seperti yang terjadi kepada Rasulullah Saw.
Wallahu’alam
bisshawab.