Pages

  • Home
  • Disclaimer
  • Privacy
  • TOS
  • Sitemap
  • About Us
Instagram Facebook Twitter

amaze.

  • Home
  • Aqeeda Islamiyyah
    • Nafsiyah
    • Tsaqafah
  • Inspirasi
    • Kisah Inspiratif
    • Motivasi
  • Al Fikru
    • Opini
    • Resensi Buku
  • Parenting
  • About us

 


Ketika berbicara tentang pekerjaan kita akan dihadapkan pada dua sudut pandang yang berbeda yaitu antara kalangan materialisme dan kalangan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Orang-orang kapitalisme dan materialisme ketika ditanya tentang mengapa kita hidup ini harus bekerja? Maka jawaban yang muncul dari mulut mereka adalah jawaban yang standar yaitu bahwa pekerjaan adalah cara untuk mendatangkan profit yang cukup untuk memenuhi apa yang kita inginkan.

Namun jika pertanyaan semacam itu diberikan kepada orang yang beriman. Maka jawaban seperti itu tidaklah sepadan karena sudut pandang kapitalisme dan orang yang beriman sudah tentu bertolak belakang. Bagi orang beriman, bekerja merupakan bagian dari perintah Allah bukan sekedar untuk mencari pemenuhan fasilitas-fasilitas kehidupan. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseur untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. al Jumu’ah [62]: 9-10)

Allah mengajarkan kepada kita didalam QS. al Jumu’ah diatas jika sudah dilaksanakan shalat maka bersegeralah kamu bertebaran di atas muka bumi untuk mencari karunia Allah, tidak lupa untuk berdzikir semoga dengan itu kamu beruntung.

Kalau kita sorot ayat ini ternyata Allah memberikan kepada kita sebuah garis komando bahwasannya kalau kita habis melaksanakan shalat Jumat, Allah tidak menyuruh kita untuk duduk lama di dalam masjid, Allah tidak menyuruh kita untuk berdzikir sampai ashar, Allah pun tidak menyuruh kita untuk tilawah sampai maghrib. Namun ketika setiap orang telah melaksanakan shalat Jumat di dalam pelaksanaan kewajiban sekali dalam sepekan, maka Allah memerintahkan agar kita bertebaran di atas muka bumi untuk mencari karunia Allah.

Ayat ini menjadi sebuah referensi sekaligus kunci jawaban bahwasannya yang memerintahkan kita untuk keluar dari masjid untuk bekerja adalah Allah. Didalam Islam ibadah tidak dimaknai secara sempit hanya terbatas pada ruang, waktu dan tempat khusus ibadah. Bahkan keluarnya kita dari masjid, keluarnya kita dari rumah ketika kita meniatkan apa yang kita lakukan dan kerjakan untuk mencari karunia Allah dengan cara-cara yang halal, maka itu merupakan bagian dari ibadah.

Apabila kita niatkan bekerja dengan niat yang benar, poros hati yang benar hanya karena Allah, menyadari bahwa ini adalah bagian dari perintah Allah. Maka itulah yang menjadikan kita paham berkerja bukan hanya sensasi mencari rezeki, bukan hanya sensasi untuk mendapatkan gaji, bukan hanya sensasi ketika mendapatkan jabatan dan mendapatkan kedudukan. Tapi sesungguhnya bekerja merupakan bagian dari salah satu seni ibadah yang indah ketika Allah menyuruh kita. Prinsip dan pemahaman inilah yang menjadikan seorang muslim terhindar dari keharaman saat mencari rizki dan bekerja.

0
Share



Alquran menjelaskan tentang bagaimana kesudahan atau akhir urusan makhluk Allah Swt. yang memiliki sikap sombong dan enggan menarik diri kepada kebenaran. Allah Swt. menceritakan bagaimana kisah iblis yang Allah Swt. usir dari surga sebab iblis memiliki sikap sombong dan merasa bahwa diri lebih baik dan lebih mulia daripada Adam as.

 

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”

 

Penyakit yang ada pada orang tidak beriman hanya ada dua, jika dia tidak أَبَىٰ maka dia pasti ٱسۡتَكۡبَرَ.

 

أَبَىٰ diartikan sebagai sikap tidak peduli, bodo amat, enggan, tidak mau. Sedangkan ٱسۡتَكۡبَرَ menurut Rasulullah Saw. adalah sikap sombong, dia menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Inilah kedua sikap yang ditunjukkan oleh iblis ketika diperintahkan oleh Allah Swt. bersujud kepada Adam. Penyakit ini bisa saja muncul pada manusia yang cerdas sekalipun.

 

Kisah yang terjadi pada Abu Thalib hendaklah menjadi hikmah bagi orang-orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah Swt. Dia adalah paman Rasulullah Saw., kerabat yang rela mendukung agama yang dibawa oleh Muhammad Saw., dia juga bagian dari pemimpin Quraisy, cerdas dan terhormat. Namun, ketika paman Rasulullah Saw., Abu Thalib, hendak meninggal dunia ayat yang turun adalah QS. at Taubah [9]: 113. “Tidak pantas bagi nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang yang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahannam.”

 


Ayat ini menepis bahwa secerdas apapun akal yang dimiliki seseorang, setinggi apapun derajat dan pangkatnya dihadapan manusia, jika dia enggan untuk menerima kebenaran maka ia digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang yang musyrik. Allah Swt. menjelaskan bahwa tidaklah pantas memohonkan ampun kepada orang yang mereka tidaklah mempercayai Allah Swt.

 

Dalam sebuah kitab dijelaskan tentang bagaimana jawaban Abu Thalib ketika diajak beriman oleh Rasulullah di ujung nafasnya, Abu Thalib berkata, “Kalau saya tidak takut celaan orang-orang yang mencela sudah pasti Anda semua menemukan saya dalam agamanya Muhammad.”

 

Jawaban yang keluar dari mulut Abu Thalib menandakan bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang cerdas dan berpikir. Dia membenarkan agama yang dibawa oleh keponakannya, Muhammad, adalah sebuah kebenaran. Namun ternyata dia tetap bersikukuh tidak mau beriman sebab dia takut di-bully oleh para pengikut dan pemuka Quraisy lainnya. Dia tidak beriman sebab enggan, takut akan pandangan orang lain terhadap dirinya. Dia takut tidak mendapatkan tempat diantara orang-orang Quraisy.


Banyak orang cerdas yang dibohongi oleh akalnya sendiri. Dia merasa ٱسۡتَكۡبَرَ. Dia merasa dia lebih tahu daripada Allah. Seringkali orang semacam ini mendewakan akal yang dimiliki. Akal digunakannya bukan untuk menjadi tunduk dihadapan Allah malah menjadikan ia semakin sombong dihadapan Allah. Akalnya malah digunakan untuk menyepelekan Allah.


Dia beranggapan bahwa manusia tidaklah butuh Allah sebab segala bentuk materi yang ada didunia ini bisa ia ciptakan sesuai kemampuan akalnya. Seperti hujan yang mereka anggap bisa mereka buat, merekapun menganggap kecerdasan manusia telah mencapai kecerdasan Artificial Intelegent yang luar biasa cerdas melebihi kecerdasan manusia itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan istikbar.

0
Share



Tidak setiap orang tua menjadi walidun dan walidatun, mereka hanya sekedar menjadi ibu dan bapak bagi anak. Mereka memberikan sandang, pangan dan papan yang selayaknya kepada anaknya. Tetapi tidak pernah memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya tentang iman, tentang sunnah Rasulullah Saw., dan anaknya tidak pernah mengerti tentang agama yang menunjukkan jalan keselamatan baginya untuk dunia dan akhirat.

Jika ada diantara manusia yang mereka hanya melaksanakan kewajiban, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan tapi mereka menafikkan tiga kewajiban utama sebagai orang tua, yaitu mengenalkan anak kepada Allah Swt, Rasul Saw., dan agama yang harus mereka yakini dan imani. Maka sesungguhnya orang tua yang seperti ini hanya menjadi abi dan ummu, ibu dan bapak, papa dan mama, ayah dan bunda, namun tidaklah menjadi walidun dan walidatun.

Konsekuensi dari kondisi ini adalah mungkin kita mendapat pahala atas kewajiban yang telah kita tunaikan berupa sandang, pangan dan papan. Tetapi kita tidak mendapatkan prioritas doanya anak ketika anak itu berdoa dengan harapan kepada Allah, “Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayani shogiroh”.

Rasulullah Saw. mengajarkan kita doa ini untuk di ucapkan dari anak yang mempunyai walidun dan walidatun bukan sekedar anak yang memiliki abah dan ummi. Atau dengan kata lain ampuni kedua orang tua ku yang walidun dan walidatun dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku dan mendidik aku selama aku kecil. Dan yang disebutkan dalam doa tersebut bukanlah abah dan ummi melainkan walidun dan walidatun.

Gambaran ini sebagai refleksi kepada setiap orang tua. Jangankan apa yang kita tuai hari ini, apa yang kita petik hari ini dari kehidupan anak kita, ketika berinteraksi dan berhadapan dengan kita, itu karena kita sepanjang hidup anak sampai anak itu besar hingga hari ini kita hanya sekedar menjadi abi dan ummi tidak menjadi walidun dan walidatun.

Ketika kita tidak menjadi walidun dan walidatun bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang dihormati oleh anak? Sedangkan mereka tidak mengenal Allah Swt., tidak mengenal Rasul Saw., yang itu merupakan jalan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Ada banyak sebagian orang tua yang pandai menuntut. Namun mereka tidak berusaha menjadi walid dan walidah, mereka tidak pernah serius mengenalkan Allah Swt. kepada anaknya, tidak pernah serius mengenalkan surga dan nereka, tidak pernah serius menyampaikan tentang kematian. Yang ada adalah anak-anaknya seolah-olah disuruh sendiri belajar tentang Allah Swt., disuruh belajar sendiri tentang hari akhir, disuruh belajar sendiri tentang mempersiapkan kematian. Lalu orang tuanya tidak pernah hadir untuk mendidik semua perkara itu. Apa yang bisa diharapkan untuk murid yang tak pernah diberi ilmu? Lalu orang tua mengharapkan anak-anak otomatis menjadi manusia yang sholih dan berilmu, apakah demikian?

Kajian tentang birulwalidain anak kepada orang tua seperti mata rantai yang tidak terputus dari bagaimana orang tua juga bisa mempersiapkan anak untuk mudah dalam berbakti kepada orang tua. Maka seperti pepatah apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Tidak hanya anak yang bisa durhaka kepada orang tua, namun bisa jadi memang orang tua sudah durhaka kepada anak dengan tidak mempersiapkan mereka untuk birrulwalidain kepada orang tua, dengan cara mengenalkan Allah Swt.. Tentunya ini menjadi cerminan bagi para orang tua.

Kisah dari Umar bin Khattab ra., telah dijumpai kisah seorang anak diseret oleh orang tuanya dihadapkan kepada Umar bin Khattab ra., ketika orang tuanya marah besar karena anak tersebut durhaka tetapi setelah diteliti ternyata orang tuanya telah durhaka kepada anaknya sebelum anak itu durhaka kepada oran tuanya. Ayahnya tidak memberikan nama yang baik untuk anaknya, tidak memberikan ibu yang beriman karena ibunya adalah seorang majusi yang menyembah kepada api,  dan seumur hidupnya ia tidak pernah mengajarkan satu hurufpun yang ada dalam Alquran kepada anaknya. Maka ucapan dari Umar bin Khattab ra. menjadi memori yang tak pernah terlupakan sepanjang sejarah. Khalifah Umar pun marah dan mengatakan, “kamu telah durhaka kepada anakmu sebelum anak ini durhaka kepada dirimu.”

0
Share

Anak adalah amanah terbesar dalam hidup. Amanah tersebut berupa pendidikan kepada anak tentang penerapan prinsip-prinsip akidah. Hal ini mencakup pendidikan bagaimana kelak ketika anak sudah menginjak usia baligh dia sudah paham konsep bertuhan yang benar seperti apa. Begitupun idealnya dia sudah tuntas mengetahui bagaimana melakukan amal perbuatan yang sesuai dengan aturan Tuhannya.


Pendidikan akidah merupakan materi yang tidak bisa dikompromikan lagi. Akidah haruslah bersumber dari kebenaran, sebab benar salahnya amal perbuatan seseorang akan diukur berdasarkan standar akidah. Maka jika pendidikan akidah yang orang tua ajarkan kepada anaknya adalah akidah yang salah, tidak menutup kemungkinan perbuatan-perbuatan yang kemudian muncul dari benak anak adalah perbuatan yang salah pula.


Allah Swt. telah menceritakan kisah-kisah penting didalam Alquran. Salah satunya adalah tentang bagaimana seorang Ayah bernama Luqman (semoga Allah Swt. merahmatinya) berpesan kepada anaknya untuk tidak menyekutukanNya. "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah Swt.) adalah benar-benar kedzaliman yang besar." (QS. Lukman : 13)


Begitu juga dengan Ya’qub as. yang berpesan kepada anaknya, “Apakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133)


Alquran pun merekam wasiat Ibrahim as. kepada anaknya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, dekian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai, anak-anakku! Sesungguhnya Allah Swt. telah memiliki agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali memegang agama islam.” (QS. Al Baqarah: 132)


Begitu pentingnya penanaman akidah kepada anak hingga Allah Swt. menyimpan kisah-kisah tersebut didalam Alquran. Kita bisa memaknai mengapa Allah Swt. hanya merekam wasiat para bapak kepada anaknya. Dan bukan wasiat ibu dalam hal penanaman akidah. Pelajaran yang dapat diambil, seolah-olah Allah Swt. ingin memberikan pelajaran kepada orang tua tentang siapa yang punya andil besar dalam pendidikan akidah sang anak.


Bapak atau ayah adalah qawwam bagi keluaga. Dia adalah pemimpin bagi keluarganya. Maka dia punya kewenangan penuh atas pendidikan keluarganya. Sebagaimana karakter seorang pemimpin, ia diharapkan memiliki karakter yang tegas dan pasti.


Pemimpin didalam keluarga memiliki tanggung jawab penuh terhadap kehidupan dan keberlangsungan keluarganya saat ini dan nanti. Maka sudah semestinya seorang ayah tidak memisahkan urusan mencari nafkah dan kewajiban mendidik buah hatinya.


Anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki perbedaan karakter baik dari segi kognitif/intelektual maupun jiwanya. Ayah memiliki pengaruh dalam mengisi tanki maskulinitas dan egosentris. Anak-anak yang mendapatkan porsi besar pada dua hal ini akan membantunya bertahan di dalam kondisi yang sulit dimasa depan.


Kekurangan aspek maskulin dari ayah dapat mempengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Anak yang kurang mendapatkan aspek maskulin dari ayah dapat mengalami ketidakpastian dan kebingungan dalam mengambil keputusan.


Beberapa aspek maskulin yang dapat dipengaruhi oleh figur ayah adalah:

- Penentuan tujuan hidup

Sebagai seorang yang beriman kepada Allah Swt., seorang muslim patutlah menjadikan visi misi kehidupan yang tertuang dalam QS. Adz Dzariyat ayat 56 sebagai standar berkehidupan. Bahwa visi utama manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. dan misi utamanya adalah menjadi khalifatu fil ardh. Ayah memiliki porsi besar dalam hal ini. Visi misi kehidupan ini akan bekaitan dengan akidah yang ditanamkan. Jika mengaku sebagai hamba Allah Swt., maka tujuan hidup keluarga tersebut haruslah yang sesuai dengan visi misinya Allah Swt. Dan pelajaran ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Maka memang hanya Ayah yang akan mampu menegakkan pendidikan akidah kepada anak-anak dengan karakter tegasnya. Agar terpatri dalam diri anak akidah yang benar dan senantiasa menjadikan akidah islam sebagai tolak ukur dalam menyelesaikan masalahnya kelak ketika ia sudah menginjak aqil baligh.


- Kemandirian dan kepercayaan diri

Maskulinitas dapat berkontribusi dalam pembentukan karakter anak pada aspek kemandirian dan kepercayaan diri. Namun, perlu dicatat bahwa maskulinitas tidak hanya terkait dengan gender laki-laki, tetapi juga dapat dimiliki oleh individu perempuan. Karakteristik maskulinitas seperti keberanian, ketegasan, dan otonomi dapat membantu anak dalam mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri. Anak yang tumbuh dengan orang tua yang memiliki karakteristik maskulinitas yang sehat mungkin memiliki teladan yang baik dalam mengembangkan keberanian dan ketegasan dalam mengambil keputusan dan bertindak, serta merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan dan mengambil risiko yang sehat.


- Kemampuan menyelesaikan konflik

Mereka yang memiliki kedekatan dengan Ayah akan mendapatkan energi positif berupa pemikiran yang lebih rasional. Dimana logika-logika berpikir yang selama ini ia lihat dari sang Ayah, inilah yang nantinya akan membantu si anak untuk dapat menyelesaikan konflik ketika ia dewasa, secara sehat.


- Kemampuan mengontrol emosi

Figur Ayah sebagai pemimpin/raja dalam keluarga harus selalu terjaga. Inilah yang akan membawa anak untuk tahu batasan. Sikap taatnya ibu ke Ayah pun akan menjadi gambaran seperti apa yang dimaksud dengan taat, tanpa harus menumbuhkan luka pengasuhan. Sebab bisa jadi luka pengasuhan pula yang turut berkontribusi pada lemahnya anak dalam mengontrol emosinya.


Ketika anak tidak memiliki figur ayah yang memberikan contoh dan membantu dalam pengembangan aspek-aspek maskulin tersebut, anak dapat menjadi plin-plan dan kurang percaya diri dalam mengambil keputusan. Anak mungkin merasa tidak memiliki arah hidup yang jelas dan kesulitan dalam menentukan tujuan hidup yang ingin dicapai. Maka urgensi peran ayah dalam pengasuhan memiliki porsi yang harus seimbang dengan ibu.


Selain itu, anak yang kekurangan aspek maskulin dari ayah juga mungkin mengalami kesulitan dalam menyelesaikan konflik dan mengontrol emosi. Anak mungkin menjadi kurang disiplin dan tidak bertanggung jawab karena tidak memiliki figur ayah yang memberikan pengarahan dan bimbingan.


Oleh karena itu, penting bagi Ayah mengambil porsi yang seimbang dalam pengasuhan sehingga anak akan tumbuh sehat, tidak hanya jasmani tapi juga anak yang sehat akalnya. Kalaupun sang Ayah sudah tidak bisa membersamainya lagi, peran itu bisa digantikan kepada lelaki yang paling dekat nasabnya dengan sang anak seperti kakek ataupun paman. Seperti yang terjadi kepada Rasulullah Saw.

 

Wallahu’alam bisshawab.

 

0
Share

Orang tua memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Mereka bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak mereka, serta membantu anak mereka berkembang secara intelektual. Pengertian parenting mengacu pada serangkaian keterampilan dan praktik yang digunakan oleh orang tua untuk membimbing, mendidik, dan membantu anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri dan sehat.

Secara makna istilah parenting adalah proses membimbing dan membantu anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri dan sehat. Ini melibatkan memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak-anak serta memberikan bimbingan dalam pengembangan kemampuan sosial, kognitif, dan emosional mereka.

Tak luput dari fokus orang tua juga adalah kemampuan dalam mengelola keterampilan orang tua (parenting skill). Ialah kemampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak mereka dengan cara yang efektif dan positif. Keterampilan parenting meliputi kemampuan untuk memberikan perhatian, dukungan, dan disiplin yang sehat untuk anak-anak mereka. Selain itu, orang tua juga harus dapat memberikan bimbingan dalam pengembangan kemampuan sosial, kognitif, dan emosional anak.

Keterampilan parenting dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui pendidikan parenting. Orang tua dapat mengikuti kursus parenting education atau membaca buku parenting untuk memperoleh informasi dan saran tentang cara meningkatkan keterampilan parenting mereka. Pendidikan parenting juga dapat membantu orang tua mengatasi tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anak mereka.

Parenting education adalah program atau kursus yang dirancang untuk membantu orang tua meningkatkan keterampilan parenting mereka. Program ini dapat diselenggarakan oleh lembaga pemerintah atau organisasi nirlaba untuk membantu orang tua mengatasi tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anak mereka. Pendidikan parenting dapat mencakup berbagai topik, seperti strategi disiplin yang sehat, komunikasi efektif dengan anak-anak, dan pengembangan kemampuan sosial dan emosional anak.

Melalui pendidikan parenting, orang tua dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah dan tantangan yang muncul selama masa tumbuh kembang anak. Orang tua juga dapat memperoleh dukungan dan saran dari instruktur dan sesama peserta.

Penting bagi orang tua untuk memahami pentingnya peran mereka dalam kehidupan anak-anak mereka dan untuk meningkatkan keterampilan parenting mereka. Orang tua harus memberikan dukungan dan kasih sayang kepada anak-anak mereka, serta membimbing mereka dalam perilaku yang sesuai dan nilai-nilai sosial yang benar. Orang tua juga harus memberikan disiplin yang sehat dan memperhatikan perkembangan intelektual dan emosional anak mereka.

Dalam pengasuhan yang sehat, orang tua harus menciptakan lingkungan yang aman, positif, dan memberikan dukungan pada anak mereka. Mereka harus mendorong anak-anak mereka untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kemampuan berbicara, menulis, membaca, dan berhitung. Orang tua juga harus memberikan pengalaman dan kesempatan untuk anak-anak mereka untuk berkembang secara sosial dan emosional, seperti melalui kegiatan ekstrakurikuler atau permainan kelompok.

Selain itu, orang tua juga harus mengajarkan anak-anak mereka tentang nilai-nilai positif, seperti toleransi, empati, dan kerja sama. Hal ini dapat membantu anak-anak mereka berkembang menjadi individu yang memiliki integritas dan rasa tanggung jawab yang baik.

Namun, menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Orang tua sering dihadapkan dengan banyak tantangan dan situasi yang membingungkan dalam membesarkan anak-anak mereka. Beberapa tantangan tersebut termasuk masalah kesehatan, konflik antara anak-anak, dan masalah perilaku.

Dalam mengatasi tantangan ini, orang tua dapat mencari dukungan dan saran dari ahli atau konselor parenting. Konselor parenting dapat membantu orang tua dalam mengatasi masalah dan mengembangkan keterampilan parenting yang lebih baik.

Dalam kesimpulannya, pengertian parenting adalah serangkaian keterampilan dan praktik yang digunakan oleh orang tua untuk membimbing, mendidik, dan membantu anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri dan sehat. Keterampilan parenting dapat ditingkatkan melalui pendidikan parenting, yang dapat membantu orang tua mengatasi tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anak mereka. Orang tua juga harus memperhatikan perkembangan intelektual dan emosional anak mereka serta memberikan dukungan dan kasih sayang untuk membantu anak-anak mereka tumbuh dan berkembang dengan baik.

0
Share



Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Dalam era modern seperti sekarang ini, peran ayah seringkali dianggap kurang signifikan dibandingkan dengan peran ibu dalam merawat anak. Namun, sebenarnya peran ayah tak kalah pentingnya dalam membentuk karakter anak.

 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Australian Institute of Family Studies, kehadiran ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak dapat meningkatkan kemampuan sosial dan emosional anak. Anak-anak yang memiliki hubungan yang positif dengan ayah mereka memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk sukses dalam hubungan interpersonal mereka saat dewasa.

 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Institute for Family Studies menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan kehadiran ayah yang aktif memiliki kecenderungan untuk memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih percaya diri.

 

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menemukan bahwa ayah yang terlibat dalam perawatan bayi baru lahir memiliki tingkat depresi yang lebih rendah dan kecenderungan untuk merasa lebih percaya diri dalam mengasuh anak mereka.

 

Dalam sebuah jurnal penelitian Child Development, ayah yang terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak dapat membantu mengurangi risiko anak mengalami perilaku agresif dan kekerasan di kemudian hari.


Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak sangat penting dan urgensi peran ayah tidak boleh diabaikan. Kehadiran ayah yang aktif dalam pengasuhan anak dapat memberikan dampak positif pada perkembangan anak, baik secara emosional, sosial, maupun kesehatan mental.


Ayah juga dapat memberikan pengaruh positif pada perkembangan emosional anak. Dalam pengasuhan anak, ayah cenderung lebih tegas dan terstruktur dalam memberikan disiplin kepada anak. Namun, hal ini justru membantu anak untuk belajar mengatur emosinya dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

 

Peran ayah dalam pengasuhan anak juga dapat membantu meningkatkan kemampuan sosial anak. Ayah dapat membantu anak untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Ayah juga dapat memberikan contoh peran model yang baik bagi anak dalam mengembangkan kemampuan sosialnya.

 

Dalam mengasuh anak, ayah juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak. Ayah yang memberikan dukungan dan dorongan pada anak akan membantu anak untuk merasa dihargai dan diakui sebagai individu yang unik dan penting. Hal ini dapat membantu anak untuk mengembangkan kepercayaan diri dan rasa percaya pada dirinya sendiri.

 

Dalam kesimpulannya, peran ayah dalam pengasuhan anak tidak boleh diabaikan. Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu mengembangkan karakter, emosi, sosial, dan kepercayaan diri anak. Oleh karena itu, ayah harus terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak dan memainkan peran yang positif sebagai orang tua yang peduli dan penyayang.

 

Kegiatan bersama dengan sang buah hati bisa ayah lakukan dengan bermain hal-hal kecil namun berkesan. Aktivitas yang dapat menumbuhkan kedekatan dengan anak bisa melalui berinteraksi dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama seperti bermain bola, bersepeda, atau sekedar duduk bersama di taman sambil berbicara. Terkadang juga bisa dilakukan dengan momen yang lebih sentimental seperti ayah membacakan buku cerita untuk anaknya sebelum tidur. Dalam momen, berusahalah untuk selalu menghadirkan kehangatan dan cinta yang tulus untuk anak.

0
Share



Menuntut ilmu adalah bagian dari perjalanan hidup untuk menemukan insight dalam kehidupan. Perjalanan ini penuh dengan perjuangan begitupun rutinitas dengan support system yang luar biasa. Menuntut ilmu merupakan aktivitas para salafus saleh dan para Nabi. Sebagaimana kisah Nabi Musa as. yang tertuang didalam Alquranul Karim, diceritakan bagaimana perjuangan Nabi Musa untuk bertemu dengan Nabi Khidhir as. Perjalanan yang panjang dan membutuhkan bekal kesabaran. 


Kisah ini menjadi dasar petunjuk bahwa menuntut ilmu syar’ i adalah bagian dari perintah Allah Swt. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (QS. Al-Kahfi: 60)


Semangat yang membara dalam diri Nabi Musa as. mengantarkannya pada keingintahuan yang besar. Beliau sangat antusias agar bisa bertemu dengan seorang alim untuk bisa menambah ilmu yang belum diketahuinya. Ditemani oleh Yusya’ bin Nun bin Ifraayiim bin Yusuf bin Ya’qub, beliau mengembara mencari ilmu. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cukuplah Hal ini sebagai (petunjuk) keutamaan dan kemuliaan ilmu. Karena sesungguhnya (Musa) nabi Allah Swt dan kalimuhu (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah Azza wa Jalla) pergi jauh dan menempuh perjalanan panjang sehingga ia mengalami kelelahan yang sangat sebab perjalanan tersebut, dalam mempelajari tiga persoalan dari seorang alim. Ketika ia mendengar (keberadaan)nya ia tidaklah tenang hingga bertemu dengannya, dan meminta kepadanya untuk berkenan diikuti dan mengajarinya ilmu.“ (Miftahu Daaris Sa‘adah, I/236-237)


Dibalik itu, tantangan besar yang dihadapi membutuhkan kesabaran yang sepadan, faidah dan hikmah yang diterima Nabi Musa as. membuatnya memiliki pengetahuan lebih banyak ketika bertemu dengan Nabi Khidhir. Kisah tentang perahu orang mukmin yang dirusak karena ada raja dzalim yang akan merusaknya, kisah pembunuhan terhadap anak muda (kafir) sebab Nabi Khidir as. khawatir hendak membuat kedua orang tuanya berpaling dari Allah Swt. dan cerita tentang memperbaiki dinding rumah kedua anak yatim oleh karena di bawahnya tersimpan harta bagi mereka sedangkan orang tua mereka termasuk kedalam orang-orang saleh. Sungguh banyak pelajaran dari kisah Nabi Musa as. yang seharusnya membuat kita lebih antusias meraih ilmu. Jauhnya perjalanan dalam menuntut ilmu bukanlah dalih agar bisa berleha-leha. Manakala api semangat telah berkobar niscaya Allah Swt. akan memudahkan jalan menuju ke sana.


Diriwayatkan oleh Ibnu Shihab dari Ibnu Abbas, “Dahulu pernah sampai kepada kami sebuah hadits dari seorang perawi dari kalangan sahabat nabi. Seandainya aku tergerak untuk mengundangnya agar Ia datang kepadaku dan menceritakan hadits itu kepadaku, tentulah aku akan melakukannya. Akan tetapi, aku lebih suka datang kepadanya dan mengetuk pintunya agar ia keluar menemuiku lalu ia meriwayatkan hadits itu kepadaku.“ (Jami‘ Bayanil Ilmi wa Fadhlul an-Numairi I/94)


Sudah semestinya sebagai umat muslim, iman yang ia miliki menggerakkan roda niatnya untuk meraih kemuliaan ilmu. Mencari sebagian karunia Allah Swt. dengan lebih giat dalam mencari ilmu. Merasa haus akan ilmu. Inilah perjalanan mulia yang mampu dilakukan karena mencari kemuliaan sejati. Ilmu harus dicari dengan tekad baja, usaha ekstra keras dan berdoa agar senantiasa dimudahkan Allah Ta’ala dalam memahaminya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Ilmu itu anugerah dari Allah Swt. yang diberikan hanya kepada mereka yang Dia cintai, tidak bisa diwariskan atau diperoleh dari jalur keturunan.“ (Thabaqat Hanabilah, Abu Ya‘la Al-Farra‘ 1/179)


Menggapai kemuliaan ilmu tentulah butuh usaha. Ilmu tidak mungkin bisa digapai tanpa ada niat untuk mencarinya. Maka senantiasa berada dalam majelis ilmu adalah salah satu kunci membuka sumber ilmu. Tak ada ketakwaan tanpa ilmu, tak ada amalan diterima kecuali dengan ilmu. Hidup tak akan berwarna tanpa ilmu.


Umar Bin Khatthab ra. mengatakan, “Sebetulnya terdapat seseorang yang keluar dari rumahnya dalam kondisi mempunyai dosa semacam gunung Tihamah. Hingga tatkala ia mencermati ilmu, setelah itu ia khawatir serta bertaubat, tentu ia kembali ke rumahnya dalam kondisi tidak mempunyai dosa sedikitpun. Sehingga janganlah kamu meninggalkan majelis para ulama.“( Miftah Daris Sa’ adah, Ibnu Qayyim, Jilid I, perihal. 77). 


Wallahu'alam.

0
Share



RESENSI BUKU - Dunia tempat kita tinggal telah menyaksikan berbagai macam peradaban. Ia telah banyak menampung peradaban sebelum datangnya Islam. Silih bergantinya peradaban di masa silam hingga kini merupakan sunnatullah. Banyak hikmah yang dapat kita petik, banyak perbedaan antara peradaban sebelum Islam datang dan saat akidah Islam dijadikan sebagai tonggak peradaban umat manusia.

Peradaban yang ada sebelumnya turut serta berkontribusi dalam pembentukan nilai yang dianut dan watak peradaban itu sendiri. Bagi dunia, tidak ada peradaban yang seimbang dan pertengahan kecuali peradaban Islam. Berbagai peradaban sebelumnya tenggelam dalam nafsu dan hanya menjadikan standar akal sebagai pembuat peraturan, padahal akal penuh keterbatasan. Sehingga model peradaban seperti ini hanya akan menimbulkan kerusakan dan kesengsaraan saja.

Begitu banyak sumbangsih peradaban Islam bagi dunia namun ditutup-tutupi agar kaum muslimin tidak bangga kepada keislamannya. Fakta-fakta kontribusi peradaban Islam dibelokkan kepada keunggulan-keunggulan filsafat yunani. Padahal peradaban Yunani pun kacau dan hancur akibat pemahaman filsafat yang mereka ciptakan sendiri.

Maka dari itu, perlunya kita memahami bagaimana kondisi peradaban sebelum Islam di masa silam. Dalam Bab I buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia yang ditulis oleh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, ia secara detil menjelaskan bagaimana keadaan peradaban Yunani, India, Persia, Romawi hingga Arab sebelum datangnya Islam.

Segala bentuk peradaban yang ditulis dalam bukunya itu tidak ada peradaban yang benar-benar menjunjung tinggi adab kemanusiaan. Hubungan yang mereka ciptakan hanyalah perbudakan manusia, hukum yang berlaku adalah hukum rimba, sistem kasta selalu membuat kasta tertinggi berdaulat atas negara. Orang-orang lemah menjadi korban, perempuan pun dianggap sebagai manusia buangan yang sah-sah untuk diwariskan. Hancurnya hubungan nasab sebab pemuasan hajat seks sudah tidak lagi menggunakan ikatan pernikahan, bahkan seorang istri bisa diwariskan kepada anak lelaki tertuanya.

Islam kemudian datang membuka pintu-pintu cahaya untuk menaklukkan negeri-negeri yang gelap gulita. Peradaban Islam menerangi dunia dengan landasan akidah Islam. Masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat heterogen yang kuat lagi tunduk kepada hukum Tuhannya. Perbedaan suku, ras dan bangsa malah menjadi kekuatan mereka untuk membuat peradaban dunia (dibawah panji Islam) lebih unggul disetiap sisi dibandingkan peradaban di silam.

Islam menghapus segala bentuk penistaan kepada manusia khususnya perempuan. Islam menganggkat derajat dan kehormatannya. Mensejajarkan perempuan sebagai partner bagi laki-laki dalam mencapai ibadah tertinggi kepada Allah Swt.

Buku ini menjelaskan tentang komponen-komponen yang membuat peradaban Islam begitu kuat dan cemerlang. Tidak hanya berkontribusi pada bidang teknologi modern dimasanya, tetapi Islam juga memberikan sumbangsih kepada peradaban dari sisi kemanusiaan dan moralitas yang tidak pernah ditemukan dalam peradaban sebelumnya.

Sungguh umat ini telah jauh tenggelam dalam kemilau dunia yang hanya nampak dalam pandangan mata saja. Andai saja kita mau mencari tahu betapa indah Islam mengatur setiap hubungan antar manusia, maka kita akan merindukan kehidupan dibawah naungan Islam yang rahmat.


Peresensi      : Riska Malinda

Judul Buku    : Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia

Penulis          : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani

Penerbit        : Pustaka Al-Kautsar

Cover            : Hard Cover

Isi                  : 880 halaman
0
Share

 


Kehamilan merupakan fitrah seorang perempuan. Rahim yang terpasang pada tubuh perempuan secara otomatis menandakan bahwa dirinya memang pusat regenerasi bagi peradaban manusia. Karunia berupa rahim inilah yang membedakan perempuan dan laki-laki. Betapa Allah Swt memuliakan manusia berjenis perempuan, lewat jalan kelahiran.

 

Meskipun begitu, ada sebagian perempuan yang menganggap bahwa hamil dan melahirkan merupakan sebuah beban. Rasa mual, tubuh lemas dan gampang lelah saat trimester pertama, suasana hati yang fluktuatif, belum lagi frekuensi berkemih yang meningkat, kemudian harus merasakan puncaknya rasa sakit pada kontraksi ketika hendak melahirkan. Kekhawatiran dan bayang-bayang saat akan merasakan lahiran normal pun menjadikan mindset horror pada sebagian perempuan. Walhasil tidak sedikit perempuan yang akhirnya memutuskan untuk memilih jalan lahir sesar. Bahkan adapula pemikiran yang lebih ekstrim yaitu memilih untuk tidak memiliki anak (chilfdree).

 

Melahirkan adalah proses alamiah tubuh bagi perempuan. Ketika proses melahirkan sedang terjadi, otak primitif manusia teraktivasi. Sehingga bisa dikatakan bahwa proses melahirkan adalah proses yang intuitif. Proses itu tidak bisa dikontrol oleh ibu secara sadar maka yang dibutuhkan saat mengejan adalah koneksi antara ibu dan bayi.

 

Bisa dibayangkan jika proses persalinan tidak diatur seperti ini oleh sang pencipta. Kita mungkin tidak bisa membayangkan pula bagaimana kondisi Isa bin Maryam yang dilahirkan tanpa bantuan teknologi seperti saat ini. Maka semestinya teknologi operasi sesar yang ada sekarang bukan digunakan sebagai pengganti proses persalinan. Namun ia hanyalah alat yang dipakai untuk membantu persalinan dengan syarat sang ibu dan bayi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

 

WHO telah merekomendasikan kepada banyak perempuan di dunia agar memilih proses persalinan secara fisiologis (lahiran normal). Idealnya angka lahir sesar hanya 5-15 persen. Namun faktanya, di 15 negara ada lebih dari 40 persen bayi lahir menggunakan metode operasi sesar. Penelitian menemukan 60 persen negara menggunakan metode sesar secara berlebihan, sedangkan sebanyak 25 persen tidak bisa melakukannya sesuai kebutuhan. Dari tahun 2000 hingga 2015, tercatat sebanyak 12 persen dari total kelahiran secara sesar menjadi 21 persen. Diperkirakan oleh para ahli bahwa hanya sekitar 10-15 persen kelahiran secara medis karena komplikasi seperti pendarahan, hipertensi atau posisi bayi yang tidak normal, (CNNIndonesia, 17/10/2018). Dapat disimpulkan bahwa tingkat kelahiran lewat bedah sesar menjadi trend dan terus meningkat.

 

Kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi membuat manusia menjadi memilih jalan yang lebih gampang dan instan. Kondisi ini semakin haripun semakin menggerus kesabaran pada diri perempuan. Pemahaman tentang fitrah perempuan menjadi luntur karenanya. Padahal andai kita mau memaknai bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu keniscayaan bagi perempuan, maka kitapun semestinya meyakini bahwa secara teknisnya Allah Swt telah menyiapkan tubuh perempuan untuk bisa melewati persalinan fisiologis (normal).

 

Sejatinya kehamilan dan persalinan merupakan bentuk takwa kepada Allah Swt. Jika seseorang sudah mengakui bahwa ia bertakwa maka apapun yang terjadi ia akan memaknainya sebagai ketaatan kepada Allah Swt. Niat harus diluruskan agar stay on the track. Susah payah saat hamil dan sakitnya melahirkan adalah sunatullah. Maka ketika kita menghilangkannya bisa jadi kita akan mendapatkan kemudharatan atau melanggar sunatullah. Jika kita memaknai susahnya hamil sebagai ujian maka sikap kita adalah bersabar, jika kita menganggap rasa sakit akibat melahirkan adalah nikmat maka bersyukurlah.

 

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah Swt menciptakan istrinya; dan dari kedua Allah Swt mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…” (TQS. An-Nisa ayat 1)

 

Melahirkan seorang insan ke dunia adalah sebuah kemuliaan bagi perempuan. Bahkan kemuliaan ini setara dengan visi misi penciptaan manusia sebagai penjaga bumi. Tidakkah sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah Swt, menginginkan untuk bisa meraih kemuliaan itu?

 

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laku-laki maupun perempuan, [karena] sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (TQS. Ali Imran ayat 195)

0
Share
Postingan Lama Beranda

Follow Us

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Labels Cloud

Kisah Inspiratif Motivasi Nafsiyah Parenting Resensi Buku Tsaqafah

Categories

  • Kisah Inspiratif (1)
  • Motivasi (10)
  • Nafsiyah (6)
  • Parenting (4)
  • Resensi Buku (1)
  • Tsaqafah (4)

Popular Posts

Labels

Kisah Inspiratif Motivasi Nafsiyah Parenting Resensi Buku Tsaqafah
Copyright © 2015 amaze.

Created By ThemeXpose Blogger Templates